Selasa, 1 April 2025, bertepatan dengan lebaran kedua Idul Fitri 1446 H, menjadi hari yang penuh makna bagi empat sahabat lama: Rahmat, Ust. Nuhdi, Ust. Siddiq, dan Ust. Robet. Mereka bertemu kembali secara tak sengaja tanpa plening dan janjian di atas kapal Dharma Santosa, yang berlayar dari Pelabuhan Tanjung Api-Api menuju Pulau Bangka-Belitung. Perjalanan ini bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan emosional yang mengingatkan mereka pada masa-masa indah yang telah mereka lalui. Meskipun telah menjalani kehidupan masing-masing dengan segala liku dan dinamika, ikatan yang terjalin di antara mereka tetap kuat.
Saya, Ust. Siddiq dan Ust. Robet telah bersahabat sejak lama ketika mengenyam Sekolah di SD Istiqomah Sekayu MUBA. Kami selalu bersama dalam suka dan duka, dari bermain di halaman sekolah, bermain sehari-hari, belajar bersama hingga kerjasama dalam hal contek-menyontek membuat PR di belakang Musholla hehehehe. Sementara itu, Ust. Nuhdi, saya baru berjumpa dengannya di Cairo. Cairo adalah tempat kami semua menimba ilmu dan mengasah pemikiran di Universitas Al-Azhar tercinta. Berbagai pengalaman berharga yang membentuk karakter dan kepribadian kami semasa belajar di sana.
Saat kapal berlayar, kami mulai mengenang sedikit masa-masa indah di Mesir. "Ingat tidak, saat kita berada di Alexandria?" tanya Ust. Siddiq sambil tersenyum. Senyuman itu seakan membawa kami kembali ke tahun-tahun yang penuh warna, ke saat-saat di mana setiap detik terasa berharga. "Itu adalah salah satu pengalaman berkesan bagi saya," tambahnya dengan nada penuh kehangatan. Ust. Robet mengangguk setuju, mengenang kembali kenangan yang terukir di benaknya. "Tahun berapa ya itu? Sepertinya tahun 2009 tepatnya pada tanggal 24 September, bukan?" ungkap Rahmat sambil menggali kembali memori-memori yang masih tersisa di dalam benaknya.
Kota Alexandria, dengan keindahan pantainya yang memukau dan arsitektur yang megah, telah menjadi magnet bagi para wisatawan. Pantai-pantai yang berkilauan di bawah sinar matahari, menciptakan suasana yang tak terlupakan. "Di kota ini, saya ingat kita menghabiskan waktu berjam-berjam dan semalaman di tepi pantai," kenang Rahmat. Suasana nostalgia ini mulai memenuhi kapal, dan tawa kami menggema di antara gelombang laut. Apalagi saat kita memilih untuk tidur di tepi pantai Alexandria di antara bebatuan bersama teman-teman lain juga kembali terbayang di benak kami, ketimbang memboking hotel untuk menginap semalam (padahal fulus musy kathir awi ba'ah *duit dak banyak nian maksudnya* hahaha). Momen tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan kami. Di sana "Kita semua berkumpul, bercerita, tertawa, nyeruput ahwah (ngopi), syai (ngeteh), gitaran dan lain sebagainya di bawah sinar bulan," Ust. Robet mengingat kembali. Suasana malam itu sangat hangat dan penuh keakraban.
Di antara kami ada yang tidak bisa tidur hingga larut malam karena terlalu asyik berbincang, membuat malam itu terasa begitu berharga. Rahmat menambahkan, "ketika pagi tiba, kita menikmati sarapan ala Mesir yang lezat." Sarapan pagi itu menjadi momen yang kami nantikan ala Azhari (mahasiswa Al-Azhar di perantauan). Kami menyantap 'isy (roti yang terbuat dari gandum), memiliki tekstur yang lembut; Ful (sejenis bubur kacang merah ala Mesir), disajikan hangat sehingga menjadi sumber energi yang sempurna untuk memulai hari; Pino (roti), melengkapi sarapan kami; batotis (kentang goreng); bazinjan (terong goreng yang renyah); tokmiyah bil beydh (sejenis burger dicampur telur ala Mesir), memberikan sentuhan rasa yang unik; dan gebnah (keju), menambah variasi dan kelezatan sarapan kami. Semuanya sangat menggugah selera!
Usai mengemas barang-barang seusai sarapan di pinggir pantai Alexandria, paginya kami melanjutkan perjalanan menuju Perpustakaan Alexandria di tepi laut Mediterania. Perpustakaan ini merupakan perpustakaan megah yang ada di Mesir. Ia menjadi pusat intelektual dunia, menampung ratusan ribu gulungan papirus dari berbagai peradaban. Ia juga pernah dijadikan sebagai pusat kajian astronomi, filsafat, dan ilmu pengetahuan. Kehancuran yang misterius pernah dialaminya, dengan berbagai teori menyebutkan perang, kebakaran, dan penghancuran sebagai penyebabnya. Meski lenyap dari sejarah, semangatnya tetap hidup. Pada tahun 2002, Bibliotheca Alexandrina dibangun kembali sebagai penerusnya, membawa kembali semangat belajar dan pengetahuan ke tanah Alexandria, meneruskan warisan kejayaan intelektual yang tak lekang oleh waktu. Perpustakaan ini merupakan jendela yang membuka pandangan terhadap sejarah peradaban kuno yang kaya dan beragam. "Saya selalu terpesona dengan koleksi referensi yang ada di Perpustakaan ini," kata Ust. Nuhdi.
Setelah menghabiskan waktu yang menyenangkan di Alexandria, kami melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi salah satu teman kami yang merupakan orang Mesir dan juga teman kuliah di Al-Azhar. Meskipun saya lupa nama daerahnya, suasana keakraban yang kami rasakan saat bertemu kembali membuat semua itu menjadi tidak penting. Dalam perjalanan menuju tempat tinggalnya, kami dikelilingi oleh pemandangan yang menakjubkan dari pedesaan Mesir. Sawah hijau yang subur dan pepohonan yang lebat, melewati semak blukar serta aliran-aliran sungai kecil, menciptakan suasana yang damai dan menyegarkan, jauh dari hiruk-pikuk kota besar.
Ketika kami tiba, sambutan hangat dari teman tersebut mengingatkan kami akan pentingnya persahabatan dan hubungan antar manusia. Kami bercanda, merasakan kembali keakraban yang terjalin di bangku kuliah. Makan siang yang disajikan pun sederhana namun nikmat, terdiri dari hidangan khas Mesir yang laziz (mantap).
Setelah makan siang, kami memutuskan untuk mencoba menunggangi himar (keledai), yang menjadi salah satu transportasi tradisional di kebunnya. Pengalaman ini menjadi momen berharga untuk merasakan budaya lokal. Saat menunggangi himar, kami merasakan kebebasan dan keceriaan yang sulit ditemukan di kehidupan sehari-hari yang sibuk. Dengan menungganginya, seolah-olah kami menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Setelah itu, kami menuju kebun teman untuk memetik buah melon. "Buah melon di sini sangat manis," kata Ust. Siddiq dengan penuh semangat. "Saya tidak sabar untuk mencicipinya. "Pengalaman proses memetik langsung buah melon, kami merasakan kebahagiaan sederhana yang sering kali terlupakan dalam kehidupan modern. Menyaksikan nuansa tersebut, teman kami dengan senyum lebar, mengkarungi (baso Pelembang: mengemas, membingkis, mengepak) oleh-oleh melon segar yang baru dipetik dari kebunnya. "Silakan bawa pulang ke Kaherah (Cairo), tempat dimana kami tinggal, sebanyak yang kalian mau," katanya, menunjukkan kedermawanan dan kehangatan hati orang Mesir.
Di Mesir, buah melon tidak dianggap sebagai buah mewah. Beda halnya dengan di negeri +62, melon diasosiasikan dengan buah yang mewah dan bukan termasuk buah-buahan yang dapat dikonsumsi sehari-hari karena harganya yang agak lumayan hehehe. Di Mesir, melon adalah buah yang mudah diakses dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan perbedaan budaya yang menarik antara kedua negara. Masalah rasa pun menjadi perbincangan dan saya dapat menyimpulkan bahwa melon Mesir memiliki rasa yang jauh lebih enak, manis, dan segar sekalipun dengan ukurannya yang kecil.
Di atas kapal dalam perjalanan menyeberang ke Pulau Bangka, suasana terasa hangat dan akrab. Di dek kapal, kami berbagi cerita, mengenang kembali semua masa purba yang telah kami lalui bersama. Ust. Nuhdi, dengan senyum yang penuh harapan, mengungkapkan, "Saya berharap kita bisa terus menjaga persahabatan ini." Ust. Robet menambahkan, "Kita harus saling mengingatkan untuk terus belajar dan berkembang. "Dalam dunia yang terus berubah ini, tantangan dan hambatan sering kali muncul, dan memiliki teman yang selalu siap membantu dan memotivasi sangatlah penting."
Kapal Dharma Santosa terus berlayar, kami duduk menikmati suasana yang damai. Dalam momen ini, kami merasakan ikatan persahabatan yang telah terjalin selama bertahun-tahun. Kami menyadari, persahabatan adalah harta yang tak ternilai yang harus dijaga dan dirawat; persahabatan adalah pelita yang akan selalu menerangi jalan. Di atas kapal Dharma Santosa, kami merayakan kehidupan yang penuh makna.
![]() |
| Shbt2 explorer Alexandria |






Masya Allah.. kisah indah yg takkan dilupakan
BalasHapushehehehe maturnuwun sobat
HapusTerbalik ceritanya wkwkwkwkwkw...kerumah kawan Bambang dulu baru nginep di pinggir pantai hehehehehehe...
BalasHapusWkwkwkwkwk dpp lah sob berhubung lah lamo jd lupo alurnyo alias sekenonyo be. Yang terpenting bs dikenang kembali kisah tempo doeloe, sehingga perlu diabadikan melalui tulisan hehehehhe....
HapusLuar biasa tulisan ini mengenang kembali ceritanya di Alexandria, mantapppp miyah miyah....
BalasHapusHehehehheh syukron sob..
Hapusقويس جدا قصة ده يا باشا
BalasHapusانت الذي أشد الناس قويسا يا باشا يا.....
Hapus