Jumat, 31 Januari 2025

Logika Kemungkinan: Inovasi Berpikir di Era Pendidikan Dinamis

Di tengah arus perubahan yang cepat dalam dunia modern, pendidikan menjadi topik yang sangat relevan untuk dibahas. Dialog yang mendalam antara Sujiwo Tejo, seorang seniman dan budayawan, dengan dr. Roslan Al-Imam Yusni Hasan, Sp.B.S., seorang dokter ahli bedah yang sukses, memberikan wawasan baru mengenai pentingnya pendidikan dalam mencapai kesuksesan. Diskusi ini mengeksplorasi berbagai perspektif tentang bagaimana pendidikan dapat membentuk masa depan, khususnya generasi millennial. Melalui tulisan ini, penulis berharap dapat mengingatkan dan merefresh mindset generasi millennial tentang betapa pentingnya pendidikan dalam kehidupan sehari-hari.

Di sebuah platform media sosial "Instagram", Sujiwo Tejo, nampak serius mendengarkan obrolan dr. Roslan (https://www.instagram.com/p/C_CfJnmPfJq) Mereka terlibat dalam sebuah diskusi yang mendalam, yang penulis simpulkan seputar pendidikan dan makna kesuksesan. 


Dalam sebuah diskusi tersebut, Roslan mengatakan kepada Sujiwo Tejo bahwa anaknya pernah mengungkapkan keengganannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ungkapan tersebut muncul dari keyakinan bahwa "orang tidak kuliah saja bisa sukses," dan sebagai contoh, dia menyebut nama besar Steve Jobs. 


Siapa yang tidak mengenal Steve Jobs? Ia adalah sosok yang sangat berpengaruh dalam dunia teknologi dan bisnis, dikenal sebagai pendiri Apple Inc., perusahaan yang telah merevolusi cara manusia berinteraksi dengan teknologi. Steve Jobs lahir pada 24 Februari 1955, dan meskipun ia dikenal sebagai seorang inovator ulung, latar belakang pendidikannya tidaklah konvensional. Ia pernah terdaftar di Reed College, sebuah perguruan tinggi seni di Portland, Oregon. Namun, setelah hanya dua tahun menempuh pendidikan, Jobs memutuskan untuk keluar (Kompas, Profil Steve Jobs Anak Imigran Muslim yang Mendirikan Apple, 2022). Keputusan ini mungkin terlihat kontroversial bagi banyak orang, terutama di masyarakat yang terkadang menganggap gelar akademis sebagai syarat utama untuk mencapai kesuksesan. Dalam pidatonya di acara wisuda Stanford University pada 12 Juni 2005, Jobs dengan tegas menyatakan bahwa ia tidak lulus dari perguruan tinggi (Medcom, Biografi Steve Jobs Pendiri Apple…., 2022). Tentu pengalaman dan pelajaran hidup yang ia peroleh selama perjalanan tersebut jauh lebih berharga daripada sekadar gelar.


Meskipun Jobs tidak menyelesaikan pendidikannya, ia berhasil menciptakan produk-produk yang mengubah dunia, seperti iPhone dan MacBook. Produk-produk ini membentuk kembali industri teknologi secara keseluruhan. Barangkali, Steve Jobs adalah contoh yang luar biasa, sebuah pernyataan yang sangat mengesankan bagi anak Roslan. Nama Steve Jobs sudah menjadi legenda dalam dunia teknologi dan inovasi.

 

Lalu, Roslan, menanggapi pernyataan anaknya, "Tapi kamu harus ingat dan tahu, Mas, dari 2 miliar orang yang tidak sekolah, berapa banyak orang yang seperti dia? Berapa banyak yang bisa mencapai kesuksesan yang sama?" Pernyataan ini membuka sebuah diskusi yang lebih dalam tentang realitas pendidikan dan kesuksesan. Roslan mengajak anaknya untuk melihat lebih jauh dari sekadar contoh satu individu. Ia menekankan bahwa meskipun Jobs berhasil tanpa pendidikan formal, tidak semua orang memiliki kesempatan atau kemampuan untuk mengikuti jejaknya.


Keberhasilan dan kesuksesan tidak selalu datang dari jalan yang sama bagi setiap individu. Dalam dunia yang penuh dengan berbagai tantangan dan rintangan, pendidikan formal sering kali menjadi salah satu faktor kunci yang dapat menentukan arah hidup seseorang. Pendidikan memberikan pengetahuan, keterampilan, dan jaringan yang diperlukan untuk meraih cita-cita. Namun, pendidikan bukanlah satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Terdapat banyak contoh individu yang berhasil tanpa latar belakang pendidikan yang konvensional selain Jobs, namun mereka tetap mampu mencapai puncak kesuksesan. Roslan melanjutkan dengan mengajukan pertanyaan lain yang menggugah pemikiran anaknya: "kira-kira, dari jutaan orang yang jadi direktur, berapa orang yang tidak sekolah?" Dalam dunia yang semakin kompleks dan kompetitif, pendidikan formal sering kali menjadi salah satu faktor penentu yang membedakan antara individu yang berhasil dan yang tidak.


Banyak direktur dan pemimpin perusahaan terkemuka di dunia memiliki latar belakang pendidikan yang solid, dari universitas-universitas terkemuka, misalnya para CEO dari perusahaan-perusahaan Fortune 500. Mereka memiliki gelar Sarjana dan bahkan Pascasarjana dari institusi yang diakui secara Internasional. Perusahaan-perusahaan tersebut dapat dilihat dalam  daftar perusahaan-perusahaan top dunia yang dirilis oleh majalah Fortune di Amerika Serikat (Okezone, Daftar 10 CEO Amerika dan Latar Belakang Pendidikannya, 2016). Ini menunjukkan bahwa meskipun ada pengecualian, pendidikan formal juga membuka pintu untuk peluang yang lebih besar di dunia kerja.


Dari pengalaman kedua tipe kesuksesan di atas, baik yang berpendidikan sarjana maupun yang tidak, dapat disimpulkan bahwa pendidikan formal tidak selalu menjadi satu-satunya jalur untuk mencapai kesuksesan. Dalam masyarakat modern saat ini, banyak individu yang berhasil meraih prestasi luar biasa tanpa gelar akademis yang tinggi. Di samping itu, pendidikan formal juga sering kali dianggap sebagai fondasi yang kuat untuk memasuki dunia kerja. Banyak perusahaan mengutamakan kandidat yang memiliki gelar sarjana sebagai syarat dasar dalam proses perekrutan. Gelar ini sering kali menjadi indikator kemampuan seseorang dalam menguasai pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam bidang tertentu.


Kembali lagi ke percakapan Roslan dengan anaknya. Sang dokter menekankan bahwa sekolah itu merupakan sarana "memperbesar kemungkinan-kemungkinan" untuk mendapatkan hidup yang layak. Pernyataan ini mencerminkan bahwa pendidikan berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan individu dengan berbagai peluang yang mungkin tidak dapat diakses tanpa pendidikan formal. 


Memang tidak ada jaminan bahwa dengan sekolah, hidup seseorang akan lebih layak atau lebih baik dari yang lain, tegas Roslan. Namun, penting untuk mencermati bahwa meskipun pendidikan tidak menjamin kesuksesan, ia memberikan fondasi yang kuat bagi individu untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan dalam dunia kerja. Pendidikan lebih kepada "proses pembelajaran yang membentuk karakter dan pola pikir individu". Dalam hal ini, pendidikan berfungsi sebagai alat untuk membangun kapasitas intelektual dan emosional yang akan sangat berguna ketika seseorang menghadapi tantangan di masa depan.


Lebih jauh, Roslan mengajukan pertanyaan kepada anaknya yang mengundang refleksi: "lebih besar mana 'kemungkinannya' orang dipilih untuk menjadi direktur atau katakanlah manajer di suatu perusahaan, yang mempunyai pendidikan sarjana (S1, S2, dan S3) daripada yang tidak berpendidikan?" Dalam banyak kasus, perusahaan lebih cenderung memilih kandidat yang memiliki gelar pendidikan tinggi karena mereka dianggap lebih siap untuk menghadapi tantangan yang kompleks dalam dunia bisnis. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi juga sebagai indikator kualitas dan kemampuan individu.


Sebagai ilustrasi, ada dua individu yang memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda. Individu pertama, adalah seorang lulusan S1, misalnya di bidang manajemen, sementara yang kedua hanya memiliki pendidikan menengah. Ketika keduanya melamar pekerjaan sebagai manajer di sebuah perusahaan, individu yang berpendidikan S1 akan memiliki keunggulan dalam hal pemahaman tentang teori manajemen, strategi bisnis, dan keterampilan interpersonal yang diperlukan untuk memimpin tim. Lulusan S1 mungkin telah mempelajari berbagai metode analisis bisnis yang membantu mereka dalam membuat keputusan yang lebih baik. Di sisi lain, individu yang tidak berpendidikan formal mungkin memiliki pengalaman kerja yang berharga, tetapi tidak memiliki pemahaman yang sama tentang konsep-konsep yang diharapkan dalam posisi manajerial. Dari sini dapat dilihat bahwa pendidikan formal dapat memberikan keunggulan yang signifikan dalam mendapatkan posisi yang lebih tinggi dalam suatu perusahaan.


Melalui dialog inspiratif di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan gelar, tetapi juga tentang mengembangkan diri dan memperluas wawasan. Pendidikan adalah perjalanan yang kompleks dan mendalam, di mana setiap individu memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi potensi mereka dan menemukan jati diri. Di era globalisasi yang semakin berkembang pesat, dunia menjadi sangat kompetitif. Setiap individu dituntut untuk memiliki keunggulan yang membedakannya dari yang lain. Tanpa pendidikan yang memadai, akan sulit untuk bersaing. Generasi muda atau milenial kiranya tidak terjebak pada pandangan sempit bahwa kesuksesan dapat dicapai tanpa pendidikan formal. Padahal pendidikan adalah alat yang dapat membantu untuk "memperbesar kemungkinan" menuju kesuksesan. 


Jangan hanya melihat individu yang berhasil tanpa pendidikan; ingatlah bahwa mereka adalah pengecualian, bukan aturan. Setiap pelajaran dan pengalaman di sekolah maupun di bangku kuliah adalah batu loncatan menuju kesuksesan. Pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas; pengalaman di luar kelas, seperti magang, organisasi mahasiswa, atau proyek sosial, juga sangat berharga. Yang terpenting, bukan hanya kesuksesan materi yang dikejar, tetapi juga berusaha untuk memberikan manfaat yang positif bagi individu dan masyarakat. Jadi, belajarlah dengan sepenuh hati dan jangan pernah meremehkan kekuatan pendidikan. 

https://palembang.tribunnews.com/2025/01/30/mimbar-jumat-logika-kemungkinaninovasi-berpikir-di-era-pendidikan-dinamis?jxrecoid=d2267936-15be-4213-b422-68303f9b030f~hp_tbn&source=widgetArtikelRekomendasi&engine=JXA 






Jumat, 24 Januari 2025

Hanin dan Keceriaan Mewarnai di Sekolah

 

Suatu hari, di sekolah Hanin, MIN 1 Palembang, guru seni mereka, Bu Indah, memberikan tugas mewarnai yang sangat menarik kepada seluruh siswa. Tugas tersebut berupa gambar yang menggambarkan pemandangan alam yang indah. Di dalam gambar itu terdapat bunga-bunga berwarna-warni, kupu-kupu yang berterbangan, burung yang berkicau, awan putih yang mengapung di langit biru, bebatuan yang terhampar di tanah, dan capung yang melayang di sekitar bunga. Gambar itu seolah-olah mengajak setiap siswa untuk mengekspresikan imajinasi dan kreativitas mereka.

Hanin merasa sangat bersemangat. Dia memilih peralatan mewarnai yang telah disiapkan. Setelah mengumpulkan pensil warna, Hanin mulai merencanakan bagaimana cara mewarnai gambar itu. Dia membayangkan bunga-bunga yang cerah, kupu-kupu yang beraneka warna, serta burung yang terbang bebas.

Hanin memulai tugasnya dengan mewarnai bunga-bunga terlebih dahulu. Dia memilih warna merah dan kuning untuk memberikan kesan ceria pada gambar tersebut. Setiap goresan pensil warna yang dia buat seolah-olah menghidupkan gambar itu. Dia sangat menikmati proses mewarnai, dan setiap kali dia melihat bunga yang sudah selesai, hatinya dipenuhi dengan kebahagiaan.

Setelah selesai dengan bunga-bunga, Hanin beralih ke kupu-kupu. Dia memilih warna-warna pastel  seperti, biru muda, kuning dan ungu. Dengan hati-hati, dia mewarnai sayap kupu-kupu, memperhatikan setiap detail agar terlihat menarik. Hanin membayangkan betapa indahnya jika kupu-kupu itu bisa terbang di dunia nyata.

Kemudian, Hanin melanjutkan ke burung-burung yang sedang berdiri di atas bunga. Dia memilih warna biru sama seperti warna langit dan kuning. Dia merasa seolah-olah sedang melukis sebuah cerita di atas kertas, di mana semua makhluk hidup berinteraksi satu sama lain.

Setelah beberapa jam berkutat dengan gambar tersebut, Hanin akhirnya menyelesaikan tugas mewarnainya. Dia melihat hasil karyanya dengan bangga. Meskipun ada beberapa bagian yang tidak sempurna, dia merasa bahwa setiap goresan yang dia buat adalah cerminan dari imajinasinya.

Setelah semua siswa menunjukkan hasil karya mereka, Bu Indah memberikan nilai untuk setiap gambar. Ketika Bu Indah mengumumkan nilai, Hanin tidak bisa menahan rasa gugupnya. "Alhamdulillah, dia mendapatkan Nilai 90". Hanin merasa sangat senang dan bangga. Dia melompat kegirangan setelah mengetahui nilai tersebut.

Setelah menerima nilai, Hanin merenungkan tentang apa yang dia harapkan setelah menyelesaikan tugas mewarnai ini: 

Pertama, dia berharap bisa terus menggali kreativitasnya dan menghasilkan karya-karya seni yang lebih baik di masa depan. Dia ingin belajar lebih banyak teknik mewarnai dan menggambar agar bisa mengekspresikan imajinasinya dengan lebih baik.

Kedua, dia berharap kepada teman-temannya untuk tidak takut berkreasi. Dia ingin mereka merasakan kebahagiaan yang sama ketika menggambar dan mewarnai. Hanin percaya bahwa seni adalah cara yang luar biasa untuk mengekspresikan perasaan dan berbagi cerita.

Cerita ini menggambarkan perjalanan Hanin dalam menyelesaikan tugas mewarnai yang sederhana namun berdampak besar dalam hidupnya. Melalui kreativitasnya, Hanin tidak hanya mendapatkan nilai yang baik, tetapi juga menemukan harapan dan langkah-langkah untuk masa depan yang lebih cerah.

Senin, 13 Januari 2025

Fakultas Ushuluddin Bangga! Sambut Alumni Sukses: Walikota Palembang & Kakanwil Kemenag Sumsel

Senin, 13 Januari 2025, suasana di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUSHPI) UIN Raden Fatah Palembang terasa istimewa. Hari itu adalah momen bersejarah yang ditunggu-tunggu oleh seluruh civitas akademika. Fakultas yang dikenal dengan program studi unggul di bidang Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir (S1 dan S2), Ilmu Hadits, Studi Agama-Agama, Aqidah dan Filsafat Islam, dan Tasawuf dan Psikoterapi, merayakan pencapaian luar biasa: 100% akreditasi unggul untuk semua program studi.

Acara syukuran ini dihadiri oleh dua tamu istimewa, alumni Fakultas Ushuluddin yang telah mengukir prestasi di bidangnya masing-masing: Walikota Palembang terpilih, Drs. Ratu Dewa, M.Si, dan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Selatan, Dr. Syafitri Irwan. Ratu Dewa dan Syafitri Irwan menjadi simbol keberhasilan dan inspirasi bagi generasi muda di fakultas ini.

Acara ini merupakan momen penting sehingga dihadiri oleh Semua civitas akademika FUSHPI (Dekan, Wakil Dekan, Dosen, Kabag, Kasub, dan tendik), Plt. Rektor, beberapa Dekan; Fakultas Adab, Dakwah, FISIP, Psikologi, FEBI, Saintek, LP2M, Camat Ilir Timur 1 dan Camat Kemuning, Lurah, RRI, STIQ Al-Lathifiyyah Palembang, dan semua tamu yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Tidak ketinggalan juga senator FUSHPI Dr. Wijaya, M.Si turut memeriahkan syukuran ini. Kehadiran Pak Wijaya, sebagai seorang senior yang memiliki pengalaman luas, membawa perspektif yang berharga dalam syukuran ini. Apalagi beliau merupakan "senator" Ushuluddin pada masanya, sekaligus senior dari Pak Ratu Dewa dan Syafitri Irwan. 

Sebelum acara resmi dimulai, momen yang penuh makna ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh Hafidzul Fadli mahasiswa Prodi Ilmu Hadits. Suara merdu dan penuh penghayatan qori' ini menjadikan suasana lebih dari sekadar ritual; ia merupakan jembatan spiritual yang menghubungkan nilai-nilai luhur yang diajarkan dalam Islam. Setelah pembacaan ayat suci Al-Qur'an, acara dilanjutkan dengan doa oleh H. John Supriyanto, MA. Beliau membawa suasana yang penuh harapan dan kekhusyukan. Doa yang dipanjatkan tidak hanya sekadar permohonan, tetapi juga merupakan ungkapan syukur atas segala nikmat yang telah diberikan.

Setelah itu, sambutan hangat dari tuan rumah, Dekan FUSHPI Prof. Dr. Uswatun Hasanah, M.Ag. Dalam sambutannya, beliau menyatakan bangga menjadi bagian dari fakultas yang melahirkan pemimpin-pemimpin hebat. "Kami sangat bangga bahwa salah satu alumni kami, Drs. Ratu Dewa, kini terpilih sebagai Walikota Palembang 2025-2030. Ini adalah bukti bahwa pendidikan di Ushuluddin tidak hanya menghasilkan sarjana, tetapi juga menghasilkan pemimpin," ungkapnya. Beliau juga mendoakan agar pelantikan Pak Ratu Dewa pada bulan Maret mendatang berjalan lancar dan beliau dapat menjalankan amanahnya dengan baik sebagai Walikota.

Plt. Rektor UIN Raden Fatah, Prof. Dr. Muhammad Adil, dalam kesempatan yang berharga ini, juga memberikan sambutan yang menggugah semangat dan harapan. Dalam sambutannya, beliau tidak hanya menyampaikan rasa syukur atas pencapaian akreditasi unggul semua program studi di FUSHPI, tetapi juga menekankan pentingnya transformasi dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Transformasi ini bukan sekadar perubahan nama, melainkan sebuah langkah strategis yang mencerminkan perkembangan signifikan dalam kapasitas akademik dan kualitas pendidikan yang ditawarkan oleh institusi ini. Beliau menjelaskan bahwa saat ini UIN Raden Fatah telah memiliki kurang lebih 25.000 mahasiswa. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang pesat dan mencerminkan daya tarik UIN Raden Fatah sebagai lembaga pendidikan tinggi. Dengan jumlah mahasiswa yang besar, UIN Raden Fatah tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai lembaga yang mampu menghasilkan pemimpin masa depan yang berkualitas. InsyaAllah ke depan akan dibuka juga Fakultas Kedokteran, tegasnya, amiin...

Ketika giliran Walikota Palembang, Ratu Dewa untuk memberikan sambutan, suasana menjadi semakin hangat. Dengan penuh percaya diri, beliau mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada almamater yang telah membentuknya menjadi pribadi seperti saat ini. "Tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras, dan tidak ada kesuksesan tanpa doa orang tua. Saya berdiri di sini hari ini berkat doa orang tua, apalagi doa seorang ibu,” ujarnya dengan nada haru. Kerja keras, doa, dan dukungan orang tua adalah tiga pilar utama yang membentuk perjalanan hidupnya. Doa ibu adalah kunci utama yang membawa keberkahan dalam hidup kita. Jangan sia-siakan dan jangan lupakan itu.

Pesan ini tidak hanya sekadar ungkapan, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang peran penting keluarga, khususnya ibu, dalam perjalanan hidup seseorang. Doa ibu bisa dipandang sebagai sumber energi positif yang mendorong anak-anak untuk mencapai cita-cita. Dalam setiap kata yang diucapkannya, terdapat semangat untuk terus berkontribusi dan menginspirasi orang lain. 

Sementara itu, Dr. Syafitri Irwan juga berbagi pengalamannya selama menempuh pendidikan di Ushuluddin. "Saya lulus dari Fakultas Ushuluddin pada tahun 1999, dan saya bangga menjadi bagian dari fakultas ini. Pendidikan yang saya terima di sini sangat berharga dan membantu saya dalam menjalankan tugas," ungkapnya.

Dalam sambutannya, beliau berpesan bahwa di antara syarat menjadi orang sukses adalah memelihara adab dan akhlak. Ini merupakan pesan dari ayah saya. Dan jangan lupa bergaul dengan orang baik. Saya mulai mengikuti pengajian dan bergaul dengan orang baik baru empat bulan. Dan ahamdulillah barangkali dengan wasilah bergaul dengan orang baik ini, Allah memberikan kemudahan kepada saya sehingga saya lulus PNS dan sekarang kini menjadi Kakanwil Kemenag, ungkapnya.

Memelihara adab dan akhlak, serta bergaul dengan orang-orang baik, akan tercipta fondasi yang kuat untuk mencapai tujuan. Kesuksesan bukanlah tujuan akhir, tetapi merupakan proses yang berkelanjutan yang melibatkan pembelajaran, pengembangan diri, dan kontribusi kepada masyarakat.

Sambutan terakhir dalam acara syukuran ini disampaikan oleh Wakil Kepala RRI, yang dengan penuh semangat dan rasa syukur mengungkapkan betapa pentingnya kerjasama yang telah terjalin antara RRI dan FUSHPI. Di antara program yang sudah berjalan adalah cawisan yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan, Ngapel (Ngajinya Pemuda Luar Biasa) dan siraman rohani setelah shalat subuh.

Acara syukuran ini tidak hanya menjadi ajang merayakan pencapaian, tetapi juga sebagai momen refleksi bagi seluruh civitas akademika. Para mahasiswa, dosen dan staf terinspirasi oleh kisah sukses para alumni yang telah membuktikan bahwa pendidikan di Ushuluddin dapat membuka banyak pintu kesempatan. Mereka berharap bahwa kehadiran Ratu Dewa dan Syafitri Irwan akan memotivasi mereka untuk terus belajar dan berusaha mencapai cita-cita.

Di akhir acara, berlangsung sesi Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoA) antara FUSHPI dengan Radio Republik Indonesia (RRI), Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Selatan, serta Kecamatan Kemuning dan Kecamatan Ilir Timur 1 Palembang. Momen ini bukan hanya sekadar formalitas, tetapi merupakan langkah strategis yang menggambarkan kolaborasi antar lembaga dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan publik serta memperkuat sinergi dalam pemberdayaan masyarakat.

Harapan besar muncul dari pertemuan ini, bahwa generasi mendatang akan terus melanjutkan tradisi kesuksesan yang telah ditorehkan oleh alumni-alumni sebelumnya. Fakultas Ushuluddin berharap dapat terus melahirkan pemimpin dan profesional berkualitas yang mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Dengan adanya dukungan dari alumni, fakultas berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan.

Dalam konteks ini, penting untuk menciptakan budaya kolaborasi, sehingga pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki oleh alumni dapat ditransfer kepada generasi mendatang. Dengan demikian, harapan untuk menciptakan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki keterampilan kepemimpinan dan etika yang tinggi dapat terwujud.

Akhirnya, diharapkan bahwa acara ini dapat menjadi titik awal untuk membangun jaringan yang lebih kuat antara alumni dan civitas akademika. Kolaborasi yang erat antara keduanya diharapkan dapat menghasilkan inovasi dan solusi yang relevan untuk tantangan yang dihadapi oleh masyarakat saat ini.

Salam FUSHPI Semakin Melesat




Minggu, 12 Januari 2025

Filosofi Rasa: Pelajaran Hidup dari Gigitan Es Krim

Es krim, merupakan makanan yang disukai banyak orang, tidak hanya sekadar camilan yang menyegarkan di hari yang panas. Ia membawa filosofi yang mendalam tentang kehidupan, kebahagiaan, dan pengalaman manusia.

Sejarah es krim dapat ditelusuri kembali ke zaman kuno. Menurut Caton dalam History of Ice Cream: From Ancient China to Modern Day (2019), es krim pertama kali dibuat di Tiongkok sekitar 2000 SM, di mana campuran susu dan beras dibekukan dalam salju. Di Eropa, es krim mulai populer pada abad ke-16, ketika para bangsawan Italia dan Prancis menikmati hidangan dingin ini. Pada tahun 1715, es krim diperkenalkan ke Inggris dan kemudian menyebar ke seluruh dunia. 


Salah satu filosofi utama yang dapat diambil dari es krim adalah konsep kebahagiaan. Es krim sering diasosiasikan dengan momen-momen bahagia—perayaan, liburan, atau sekadar waktu bersantai bersama teman, anak dan keluarga. 


Lebih dari itu, es krim juga melambangkan kenangan masa kecil. Banyak orang memiliki kenangan indah saat menikmati es krim. Kenangan ini sering kali terhubung dengan kebahagiaan sederhana, yang mengingatkan akan pentingnya menghargai momen-momen kecil dalam hidup. 


Es krim juga memiliki peran penting dalam budaya populer. Film, lagu, dan bahkan seni sering kali menggunakan es krim sebagai simbol kebahagiaan dan kesenangan. Statistik menunjukkan bahwa es krim adalah salah satu makanan penutup paling populer di dunia. Di Amerika Serikat, diperkirakan bahwa setiap orang mengonsumsi rata-rata 23 liter es krim per tahun (International Dairy Foods Association, 2021). Hal ini menunjukkan bahwa es krim bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga bagian dari pengalaman sosial yang memperkuat hubungan antarindividu.


Dalam beberapa tahun terakhir, industri es krim telah mengalami banyak inovasi. Inovasi ini mencerminkan perubahan dalam preferensi konsumen yang semakin sadar akan kesehatan dan keberlanjutan. Misalnya, banyak produsen es krim kini menggunakan bahan-bahan alami dan mengurangi penggunaan gula tambahan. Ini menunjukkan bahwa es krim tidak hanya dapat dinikmati, tetapi juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan nilai-nilai konsumen modern.


Dengan demikian, filosofi es krim melampaui sekadar rasa dan tekstur. Ia merupakan simbol kebahagiaan, nostalgia, dan inovasi. Dari sejarah panjangnya hingga dampaknya dalam budaya populer, es krim mengingatkan akan pentingnya menikmati momen-momen kecil dalam hidup. Dalam dunia yang sering kali terasa sibuk dan penuh tekanan, es krim menawarkan pelarian—sebuah kesempatan untuk berhenti sejenak, menikmati rasa manis, dan merayakan kebersamaan. Melalui  es krim kita berharap menjadi bagian penting dari pengalaman manusia di masa depan.



Sabtu, 11 Januari 2025

Meraih Berkah: Syukur atas Pencapaian Sertifikasi Dosen

Alhamdulillah, tepatnya pada tanggal 7 Januari 2025, kami, Rahmat Hidayat dan Yulian Rama Pri Handiki, selaku dosen di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Raden Fatah Palembang, dinyatakan lulus sertifikasi dosen. Momen bersejarah ini tidak hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga sebuah simbol dari dedikasi dan komitmen kami terhadap dunia pendidikan.

Perjalanan menuju sertifikasi dosen ini bukanlah hal yang mudah. Kami harus melewati berbagai tahapan yang menuntut ketekunan dan kesabaran. Setiap tugas yang diberikan oleh tim, menjadi bagian penting dalam proses ini. Kami merasakan betapa pentingnya setiap langkah yang kami ambil, dan bagaimana setiap pengalaman tersebut membentuk kami.


Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Tim Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), Bu Prof. Arne, Dr. Mukti, Dr. Irham, Bu Indrawati, M.Pd, Pak Afandi, M.Pd.I, Dr. Helen, Bu Anita, M.Sc, Mbak Dwi, dan semua squad LPM yang telah bekerja keras menyiapkan semua proses sertifikasi ini. Dari awal hingga akhir, tim LPM memberikan bimbingan dan dukungan yang sangat berarti. Mereka tidak hanya memastikan bahwa semua prosedur berjalan dengan baik, tetapi juga memberikan motivasi kepada kami untuk terus berusaha dan tidak menyerah.


Tak lupa, kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada segenap pimpinan UIN Raden Fatah, Plt. Rektor Prof. Adil, dan Wakil Rektor Prof. Hadi, Dr. Syahril Jamil, Kabiro AUPK Dr. Dur Brutu, dan Kabiro AAKK Dr. Jumari Iswadi. Kepemimpinan yang visioner dan kebijakan yang mendukung pengembangan dosen menjadi salah satu faktor kunci dalam keberhasilan.


Dari Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, kami juga berterima kasih kepada Bu Dekan Prof. Uswatun Hasanah, para wakil dekan Bu Dr. Nur Fitriyana, Bang Abdul Karim Nasution, M.Hum dan Pak Almunadi, MA dan Bapak/Ibu dosen semua. Kerjasama yang baik dan saling mendukung di antara kami telah menciptakan lingkungan akademik yang kondusif. Kami belajar banyak dari pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki oleh Bapak/Ibu dosen.


Bu Kabag Dr. Jummiana, Kasubers Pak Rais dan Pak Rafiq serta rekan-rekan tenaga kependidikan (tendik), juga tak luput dari ucapan terima kasih kami. Mereka adalah pilar yang mendukung setiap kegiatan di fakultas. Tanpa bantuan dan kerja keras mereka, proses pembelajaran dan administrasi di fakultas tidak akan berjalan dengan lancar.


Dengan lulusnya sertifikasi dosen ini, harapan kami semakin besar. Kami ingin menjadikan pengalaman ini sebagai motivasi untuk terus belajar. Sertifikasi bukanlah akhir dari perjalanan, tetapi justru awal dari tantangan baru. Sertifikasi dosen adalah pengakuan atas dedikasi dan kerja keras, tetapi lebih dari itu, ini adalah tanggung jawab untuk terus memberikan yang terbaik bagi lembaga, mahasiswa dan masyarakat.


Akhir kata, kami mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat dan kemudahan yang diberikan. Semoga setiap langkah kita semua ke depan selalu dalam lindungan-Nya dan dapat memberikan manfaat yang besar bagi umat.



Khutbah Jum'at yang Terabaikan: Refleksi Terhadap Fenomena Keberagamaan di Era Digital

Di era digital saat ini, interaksi sosial masyarakat mengalami transformasi yang signifikan. Menurut laporan dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada tahun 2024, pengguna internet di Indonesia mencapai 221.563.479 jiwa dari total populasi 278.696.200 jiwa pada tahun 2023. Tingkat penetrasi pengguna internet di Indonesia mencapai 79,5%, mengalami peningkatan sebesar 1,4% dibandingkan dengan periode sebelumnya (lihat apjii.or.id). Angka-angka ini tidak hanya menunjukkan pertumbuhan pengguna internet, tetapi juga mencerminkan perubahan mendasar dalam cara masyarakat berkomunikasi dan berinteraksi, termasuk dalam konteks beragama. Dalam konteks ini, penting untuk memahami bagaimana teknologi dan media sosial mempengaruhi praktik keagamaan dan interaksi sosial umat Islam.

Shalat Jumat, sebagai salah satu ibadah yang memiliki nilai sosial dan spiritual yang tinggi, kini menghadapi tantangan baru akibat adanya distraksi dari teknologi dan media sosial. Salah satu fenomena yang menarik perhatian adalah kecenderungan masyarakat untuk menggunakan perangkat digital, seperti smartphone, saat Khatib menyampaikan khutbah. Ada jemaah yang lebih memilih untuk mengecek media sosial, menonton video di YouTube, atau bahkan bermain game, daripada fokus pada khutbah yang disampaikan. Hal ini berpotensi mengurangi kualitas ibadah dan pemahaman terhadap pesan-pesan agama yang disampaikan. Dalam konteks ini, kita perlu mengingat sabda Rasulullah SAW yang menyatakan: "Apabila Khatib sedang menyampaikan khutbahnya, maka janganlah kalian berkata-kata, karena sesungguhnya jika ada yang berkata-kata, maka jumatnya tidak sempurna" (HR. Muslim). Hadits ini menekankan pentingnya konsentrasi dan kehadiran jiwa dalam ibadah, yang sering kali teralihkan oleh teknologi.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting tentang bagaimana seharusnya umat Islam menyeimbangkan antara kemajuan teknologi dan kewajiban beragama. Dalam masyarakat modern, rutinitas digital sering kali membuat individu sulit untuk fokus pada hal-hal yang seharusnya menjadi prioritas. Khutbah Jumat, yang seharusnya menjadi momen refleksi dan introspeksi, justru terabaikan oleh kebisingan dunia maya. Dalam konteks ini, timbul pertanyaan: apakah pesan-pesan spiritual yang disampaikan benar-benar didengarkan, ataukah kita hadir hanya secara fisik saja? Penelitian menunjukkan bahwa perhatian yang teralihkan dapat mengurangi kemampuan individu untuk menyerap informasi dan memahami makna yang mendalam dari khutbah. Dengan kata lain, kehadiran fisik di masjid tidak selalu sejalan dengan kehadiran spiritual yang diharapkan.

Seiring dengan perkembangan teknologi, kita menyaksikan perubahan dramatis dalam cara orang berinteraksi dan berkomunikasi. Media sosial telah menjadi platform yang memungkinkan individu untuk terhubung dengan orang lain, berbagi informasi, dan berpartisipasi dalam diskusi secara real-time. Namun, di balik kemudahan dan manfaat tersebut, terdapat dampak negatif yang tidak dapat diabaikan. Ketika seseorang hadir di masjid dengan tujuan untuk menyerap pesan-pesan spiritual yang disampaikan oleh Khatib, kehadiran ponsel pintar dan aplikasi media sosial sering kali menjadi penghalang bagi terwujudnya tujuan tersebut. Dalam banyak kasus, ada jemaah lebih memilih untuk terlibat dalam aktivitas digital yang tidak relevan daripada mendengarkan khutbah, yang seharusnya menjadi momen penting untuk refleksi spiritual.

Oleh karena itu, niat merupakan hal yang sangat penting dalam segala aktivitas, terutama dalam konteks ibadah. Niat menjadi fondasi yang mendasari setiap tindakan dan keputusan yang diambil. Tanpa niat yang jelas, segala tindakan dapat kehilangan arah dan tujuan. Dalam hal beribadah, niat adalah aspek yang sangat fundamental. Ketika seseorang datang ke masjid dengan niat untuk mendengarkan khutbah dan mendapatkan pencerahan, tetapi kemudian tergoda untuk membuka aplikasi di media sosial, niat awal tersebut menjadi teralihkan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga konsentrasi dan kesadaran saat beribadah.

Dalam konteks pencapaian terhadap suatu tujuan, penting untuk memperhatikan kaidah Ushuliyyah, yaitu prinsip-prinsip dasar dalam hukum Islam yang dapat digunakan untuk menganalisis fenomena tertentu. Kaidah ini menyatakan bahwa "segala sesuatu tergantung pada tujuannya" (al-umuru bimaqasidiha). Muhammad Az-Zuhaili dalam al-Qawa’id al-Fiqhiyyah-nya menjelaskan bahwa al-umuru bimaqasidiha adalah segala bentuk perkataan dan perbuatan yang berkaitan dengan maksud dan niat. Tiap perbuatan dihukumi dari niatnya. Atas dasar niat inilah perbuatan tersebut dihukumi, berpahala atau tidak, berdosa atau tidak, bersalah atau tidak, dan lain sebagainya (Muhammad Az-Zuhaili, al-Qawa‘id al-Fiqhiyyah wa Tatbiqatuha fi al-Madzahib Al-Arba‘ah, Damaskus: Dar al-Fikr, 2006, J. I, 63-64). Dengan demikian, kaidah ini menggarisbawahi bahwa niat, apalagi dalam beribadah, akan menentukan kualitas ibadah itu. Meskipun seseorang tidak berkata-kata ketika Khatib sedang menyampaikan khutbah, jika hati dan niatnya dialihkan kepada hal-hal lain, maka itu juga termasuk berkata-kata dalam konteks tidak langsung.

Meskipun penggunaan gadget, bermain game, atau berinteraksi di media sosial tidak secara eksplisit dilarang dalam al-Qur'an maupun hadits, melalui kaidah Ushuliyyah ini, dapat dikemukakan hukum terkait fenomena tersebut. Situasi mendengarkan khutbah dapat diilustrasikan dengan situasi belajar di kelas, di mana interaksi digital yang mengganggu konsentrasi dapat berdampak negatif pada proses belajar. Dalam konteks ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa meskipun secara teknis tidak ada larangan, dampak dari tindakan tersebut terhadap kualitas ibadah perlu dipertimbangkan. Dengan mempertimbangkan dampak dari interaksi digital terhadap konsentrasi, seseorang dapat lebih menghargai pentingnya menjaga fokus saat beribadah.

Oleh karena itu, perlu disadari bahwa keberagamaan tidak hanya diukur dari kehadiran fisik di masjid, tetapi juga dari kualitas kehadiran spiritual. Ketika hati dan fisik lebih terhubung dengan dunia maya daripada mendengarkan khutbah, hal ini sebenarnya menjauhkan diri dari nilai-nilai spiritual yang seharusnya dipegang teguh. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi umat Islam untuk tetap menjaga integritas dan kualitas keberagamaan di tengah derasnya arus informasi. Kesadaran beragama diharapkan dapat meningkat seiring dengan kemajuan teknologi. Masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan media sosial dan teknologi lainnya sebagai sarana untuk memperdalam pemahaman agama, bukan sebagai distraksi.

Pesan Rasulullah SAW tentang pentingnya mendengarkan khutbah hendaknya dipahami secara komprehensif, bukan hanya dipahami secara literal sebatas tidak berkata-kata atau berkomunikasi dengan orang lain. Momen khutbah Jumat seharusnya dijadikan sebagai waktu untuk merenung, belajar, dan memperbaiki diri. Dalam konteks ini, penting bagi setiap individu untuk menanamkan niat yang kuat dan menghilangkan segala bentuk distraksi agar dapat menyerap pesan spiritual yang disampaikan oleh Khatib. Akhirnya, di tengah perkembangan teknologi yang pesat, umat Islam diharapkan mampu menyeimbangkan antara kemajuan teknologi dan kewajiban beragama. Dengan memahami dampak dari interaksi digital terhadap kualitas ibadah, integritas spiritual dan optimalisasi pengalaman beribadah kita dapat terjaga. Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk menjalani hidup ini dengan penuh kesadaran akan nilai-nilai spiritual yang hakiki. Aamiin.

https://palembang.tribunnews.com/2025/01/09/khutbah-jumat-yang-terabaikan-up-refleksi-terhadap-fenomena-keberagamaan-di-era-digital 


The Neglected Friday Khutbah: A Reflection on Religious Practices in the Digital Era

In the current digital era, social interactions within society have undergone significant transformations. According to a report by the Indonesian Internet Service Providers Association (APJII), in 2024, internet users in Indonesia reached 221,563,479 out of a total population of 278,696,200 in 2023. The internet penetration rate in Indonesia was 79.5%, an increase of 1.4% compared to the previous period (see apjii.or.id). These figures not only indicate the growth of internet users but also reflect a fundamental shift in how people communicate and interact, including in the religious context. In this light, it is crucial to understand how technology and social media influence religious practices and the social interactions of Muslims.

Friday prayers (Jumu'ah), a form of worship with high social and spiritual value, now face new challenges due to distractions from technology and social media. One notable phenomenon is the tendency of some people to use digital devices, such as smartphones, while the Imam delivers the sermon (khutbah). Some attendees choose to check social media, watch YouTube videos, or even play games instead of focusing on the sermon. This behavior can potentially diminish the quality of worship and the comprehension of the religious messages conveyed. In this context, we should recall the words of the Prophet Muhammad (peace be upon him), who said: "When the Imam is delivering the khutbah, do not speak, for whoever speaks, their Friday prayer is incomplete" (Sahih Muslim). This hadith emphasizes the importance of concentration and presence of heart during worship, which is often diverted by technology.

This phenomenon raises important questions about how Muslims should balance technological advancements with their religious obligations. In modern society, digital routines often make it difficult for individuals to focus on priorities. The Friday khutbah, which should be a moment of reflection and introspection, is often overshadowed by the noise of the digital world. This situation prompts a question: Are the spiritual messages truly being listened to, or are we merely present physically? Research indicates that diverted attention reduces individuals' ability to absorb information and deeply understand the messages of the sermon. In other words, physical presence in the mosque does not always align with the spiritual presence that is expected.

As technology evolves, we witness dramatic changes in how people interact and communicate. Social media has become a platform enabling individuals to connect, share information, and participate in discussions in real time. However, despite its conveniences and benefits, it also brings negative impacts that cannot be ignored. When someone attends the mosque intending to absorb spiritual messages from the Imam, the presence of smartphones and social media apps often hinders the realization of that goal. In many cases, attendees choose to engage in unrelated digital activities instead of listening to the sermon, which should be an essential moment for spiritual reflection.

Therefore, intention (niyyah) is crucial in all activities, particularly in worship. Intention serves as the foundation underlying every action and decision. Without a clear intention, actions can lose their direction and purpose. In worship, intention is fundamental. When someone comes to the mosque intending to listen to the sermon and gain enlightenment but then succumbs to the temptation of opening social media apps, the original intention becomes diverted. This underscores the importance of maintaining focus and awareness during worship.

In the context of achieving a goal, it is essential to consider the principles of Usuliyyah (Islamic legal maxims), which serve as foundational guidelines in Islamic law for analyzing specific phenomena. One such principle states that "actions are judged by their intentions" (al-umuru bimaqasidiha). Muhammad Az-Zuhaili, in his work al-Qawa'id al-Fiqhiyyah, explains that al-umuru bimaqasidiha refers to all forms of speech and action related to intent and purpose. Actions are judged based on their intentions, determining whether they are rewarded, sinful, or neutral (Muhammad Az-Zuhaili, al-Qawa‘id al-Fiqhiyyah wa Tatbiqatuha fi al-Madzahib Al-Arba‘ah, Damascus: Dar al-Fikr, 2006, Vol. I, pp. 63-64). This principle highlights that in worship, intention directly impacts the quality of the act. Even if someone refrains from speaking during the khutbah, if their heart and intention are distracted by other matters, this may also be considered as "speaking" in an indirect sense.

Although the use of gadgets, playing games, or engaging in social media activities is not explicitly prohibited in the Qur'an or hadith, applying the principles of Usuliyyah can help establish rulings related to such phenomena. The situation of listening to a khutbah can be likened to a classroom setting, where digital interactions that disrupt focus negatively impact the learning process. In this context, it can be concluded that while there may be no explicit prohibition, the impact of such behavior on the quality of worship must be considered. By reflecting on how digital interactions affect concentration, individuals can better appreciate the importance of maintaining focus during worship.

Thus, it should be realized that religiosity is measured not only by physical presence in the mosque but also by the quality of spiritual presence. When hearts and minds are more connected to the digital world than to the khutbah, this detracts from the spiritual values that should be upheld. This presents a unique challenge for Muslims to maintain their religious integrity and quality amid the flood of information. Religious awareness is expected to increase alongside technological advancements. Society is encouraged to use social media and other technologies as tools to deepen religious understanding rather than as distractions.

The Prophet Muhammad's message about the importance of listening to the khutbah should be understood comprehensively, not merely as refraining from talking or communicating with others. The Friday khutbah should be a time for reflection, learning, and self-improvement. In this context, it is crucial for individuals to cultivate strong intentions and eliminate distractions to absorb the spiritual messages conveyed by the Imam. Ultimately, amid rapid technological advancements, Muslims are expected to balance technological progress with religious obligations. By understanding the impact of digital interactions on the quality of worship, we can preserve our spiritual integrity and optimize our worship experiences. May we all be granted the strength to live our lives with full awareness of the fundamental spiritual values. Ameen.

Selasa, 07 Januari 2025

Kejayaan Hasbi/Dayat: Rama/Sani Terpaksa Pulang dengan Kekalahan dan Kekecewaan!

Senin malam, 6 Januari 2025, suasana di PB Samo Same begitu hidup dan penuh semangat. Gedung olahraga itu dipenuhi oleh sorakan dan tepuk tangan suporter yang antusias menantikan pertandingan badminton yang telah lama dinanti-nanti. Di tengah keramaian tersebut, pasangan badminton Hasbi dan Dayat bersiap untuk menggempur pasangan lawan mereka, Rama dan Sani. Atmosfer di dalam gedung terasa penuh dengan energi, seolah-olah setiap orang di sana merasakan ketegangan dan harapan yang menyelimuti pertandingan ini.

Ketika pertandingan dimulai, Rama dan Sani tampak percaya diri, bahkan mungkin terlalu percaya diri (PEDE). Mereka memasuki lapangan dengan senyum lebar dan langkah mantap, mengingat bahwa sebelumnya mereka telah melibas semua rival dengan mudah. Namun, di balik senyuman itu, ada sedikit ketidakpastian yang tidak mereka sadari. Di sisi lain, Hasbi dan Dayat, meskipun santai, telah mempersiapkan diri dengan matang. Mereka telah menganalisis permainan lawan, dan merancang strategi yang tepat untuk menghadapi tantangan ini.

Dayat, dengan nada tenang namun penuh keyakinan, mengingatkan Hasbi untuk tetap menjaga fokus. "Kak, kita harus main santai saja. Jangan sampai terpengaruh dengan permainan mereka yang mau menggebu-gebu," ujarnya. Hasbi mengangguk setuju dan merespon, "Betul, Dayat. Kita harus bermain dengan strategi. Mereka mungkin terlihat percaya diri, tapi kita punya kemampuan yang sama." 

Saat pertandingan dimulai, Rama dan Sani langsung mengambil inisiatif, mengandalkan kecepatan dan kekuatan cemesan mereka. Namun, seiring berjalannya waktu, permainan mereka mulai goyah. Hasbi dan Dayat menunjukkan teknik dan kerjasama yang luar biasa, membuat pasangan lawan tertegun. Set demi set, keuntungan berpihak pada Kak Hasbi dan Dayat, hingga akhirnya mereka mengakhiri pertandingan dengan skor telak 42-27. Kemenangan ini bukan hanya sekadar angka, tetapi merupakan hasil dari kerja keras, disiplin, dan strategi yang matang.

Setelah wasit mengakhiri pertandingan, suasana di dalam gedung berubah menjadi meriah. Hasbi dan Dayat merayakan kemenangan mereka. Kegembiraan ini menggambarkan betapa besar arti kemenangan tersebut bagi mereka. Dayat, dengan mata berbinar, berkata, "Kak, kita berhasil menumbangkan mereka! Ini adalah kemenangan yang spektakuler!" Hasbi menjawab dengan penuh rasa syukur, "Iya, Dayat! Kita bermain dengan sangat baik. Kerjasama kita memang kunci kemenangan kali ini." 

Di sisi lain, di sudut lain dari gedung olahraga, Rama dan Sani duduk dengan ekspresi kecewa. Mereka tidak bisa mempercayai kekalahan telak yang baru saja mereka alami. Raut wajah mereka menunjukkan bahwa mereka terkejut dan merasa hampa. "Aku benar-benar tidak menyangka kita akan kalah seperti ini. Aku terlalu percaya diri," keluh Rama. Sani menimpali, "Iyo, Lur. Kita seharusnya tidak meremehkan mereka. Kak Hasbi dan Dayat bermain sangat baik malam ini." 

Rama kemudian menyadari bahwa mereka perlu mengevaluasi kembali strategi permainan mereka. "Aku rasa kita juga harus memikirkan strategi baru. Kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan keberuntungan dari permainan-permainan sebelumnya dan kepercayaan diri yang meluap-luap," ungkapnya. Sani setuju dan menambahkan, "Betul boskuu, kita perlu lebih banyak berlatih dan memperbaiki kelemahan kita. Kita juga harus belajar dari kekalahan ini."

Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, Rama dan Sani harus menerima hukuman push-up sebagai konsekuensi dari kekalahan mereka. Dengan enggan, mereka berdiri dan mulai melakukan push-up di depan penonton yang bersorak. Meskipun merasa malu, mereka tahu bahwa ini adalah bagian dari permainan dan harus diterima dengan lapang dada. "Satu, dua, tiga... Ini adalah pelajaran berharga," ujar Rama sambil berusaha tetap fokus push up. Sani menambahkan, "Benar, kita harus bangkit dari kekalahan ini. Ini bukan akhir dari segalanya." 

Setelah pertandingan, semua pemain berkumpul untuk berbagi pengalaman dan harapan mereka ke depan. Hasbi dan Dayat berharap untuk terus meningkatkan permainan mereka, sementara Rama dan Sani bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. "Saya berharap kita semua bisa belajar dari pertandingan ini. Kemenangan bukan hanya tentang angka, tetapi juga tentang bagaimana kita menghargai lawan dan terus berlatih," ungkap Kak Hasbi dengan penuh kebijaksanaan. Dayat menambahkan, "Dan kalian harus tingkatkan lagi komunikasi di lapanan jangan terlalu tegang, rileks saja." 

Rama, dengan tekad yang baru, menyatakan, "Kami akan kembali lebih kuat. Ini adalah janji kami. Kami akan berlatih lebih keras dan tidak akan meremehkan siapa pun." Sani menegaskan, "Kami juga berharap bisa memberikan yang terbaik di pertandingan selanjutnya. Setiap kekalahan adalah pelajaran, dan kami akan menjadikannya motivasi." 

Malam itu di PB Samo Same menjadi saksi dari sebuah pertandingan yang tidak hanya menguji keterampilan, tetapi juga karakter dari setiap pemain. Kemenangan Hasbi dan Dayat adalah hasil dari kerjasama, sementara kekalahan Rama dan Sani adalah pengingat bahwa dalam olahraga, tidak ada yang bisa dianggap remeh. 

Dalam dunia badminton, setiap pukulan dan setiap langkah di lapangan adalah bagian dari perjalanan yang lebih besar—sebuah perjalanan yang mengajarkan kita arti dari kerja keras, dedikasi, dan semangat juang. Kemenangan dan kekalahan adalah dua sisi dari koin yang sama, dan yang terpenting adalah bagaimana setiap individu mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut untuk menjadi lebih baik di masa depan. Dengan semangat yang membara, para pemain berkomitmen untuk terus berjuang, membangun komunikasi yang lebih baik antara satu sama lain, menjadikan olahraga sebagai sarana untuk bersatu dan saling menghargai.

Salam Olahraga guys.....

Senyum tapi hati sedih tidak
menerima kekalahan 😆😆😆

Capek bos mantap nian
mosoh malam ni😃😃



Minggu, 05 Januari 2025

Momen Seru Afnan dan Hanin: Mandi dan Bermain di Kolong Pantai Cemara

Kamis 2 Januari, 2025, di sebuah sore yang cerah di Pantai Cemara, Koba, Afnan dan kakaknya Hanin memutuskan untuk menghabiskan waktu mereka di sebuah tempat yang sangat mereka sukai yaitu air Kolong. Kolong, yang dalam bahasa masyarakat Bangka berarti aliran sungai kecil, menjadi lokasi favorit bagi banyak anak-anak untuk mandi setelah bermain di pantai. Suara ombak yang bergulung lembut di pantai seolah menjadi latar belakang yang harmonis untuk petualangan mereka.

Afnan, seorang anak berusia empat tahun dengan semangat yang tak terbendung, selalu mencari cara untuk menghabiskan waktu dengan kakaknya. Mereka berdua memiliki kebiasaan untuk menjelajahi setiap sudut Pantai Cemara, tetapi Kolong selalu menjadi tempat istimewa bagi mereka.


Setelah menyiapkan perlengkapan mandi mereka, Afnan dan Hanin berlari menuju Kolong. Kolong itu memiliki air yang jernih menciptakan suasana yang menenangkan.


Afnan segera melompat ke dalam air, merasakan kesegaran yang menyegarkan tubuhnya. Hanin mengikuti dengan senyuman lebar, merasakan kebahagiaan yang meluap-luap.


Mereka bermain air, melompat, dan menyelam sambil tertawa riang. Setiap detik yang mereka habiskan di Kolong adalah momen berharga yang akan mereka kenang selamanya. Setelah beberapa saat bermain, mereka beristirahat di tepi Kolong, menikmati keindahan alam di sekitar mereka.


"Hanin mengungkapkan kepada Afnan bahwa Kolong bukan hanya tempat kita bermain, tapi juga bagian dari kehidupan. Banyak anak-anak lain yang datang ke sini untuk mandi dan bersenang-senang.”


“Aku berharap Kolong ini selalu bersih dan terjaga,” Afnan melanjutkan. “Jika kita tidak merawatnya, bisa saja Kolong ini akan kotor dan tidak bisa digunakan lagi.”


Hanin setuju, “Benar! Kolong ini harus terjaga agar kita bisa terus bermain di sini.” Mereka membayangkan Kolong bisa selalu menjadi tempat yang lebih baik, di mana anak-anak bisa bermain dengan aman dan bahagia.


Mereka berjanji pada diri mereka sendiri untuk selalu mengingat pentingnya menjaga Kolong, bukan hanya untuk diri mereka, tetapi juga untuk generasi yang akan datang.


Ketika matahari mulai terbenam, mereka meninggalkan Kolong dengan hati yang penuh harapan. Mereka tahu bahwa Kolong bukan hanya sekadar tempat bermain, tetapi juga simbol dari cinta dan tanggung jawab mereka terhadap lingkungan. 


Kolong Pantai Cemara, begitu juga dengan kolong-kolong lainnya, bukan hanya sekadar aliran sungai kecil; ia adalah bagian dari identitas masyarakat. Kolong bisa menjadi simbol kebersamaan dan cinta terhadap alam. Kolong akan terus menjadi bagian dari cerita indah masa kecil anak-anak yang akan datang.



Kamis, 02 Januari 2025

Hanin, Tengku, Qiana, dan Amot: Jejak Persahabatan di Antara Lautan


Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, di antara kesibukan yang tak pernah henti, terdapat sebuah kisah persahabatan yang terjalin antara empat sahabat yang berasal dari pulau yang berbeda. Hanin, seorang anak yang tinggal di Palembang, Sumatera Selatan, memiliki tiga sahabat dekat yang tinggal di Pulau Bangka: Tengku, Amot, dan Qiana. Meskipun mereka terpisah oleh jarak, persahabatan mereka tetap kuat dan penuh makna.


Hanin selalu menantikan liburan untuk mengunjungi Bangka. Setiap 1 bulan atau lebih, ia akan berangkat ke Bangka. Ketika ada kesempatan, ia pergi ke Puskesmas Lubuk Besar, tempat di mana ia dan ketiga sahabatnya sering berkumpul. Puskesmas itu menjadi saksi bisu dari berbagai cerita dan kenangan indah yang mereka ciptakan bersama.


Tengku, sahabat Hanin yang paling tua, adalah seorang anak yang bijaksana. Ia selalu memberikan nasihat yang baik dan menjadi tempat curhat bagi yang lain. Amot, dengan sifat humorisnya, selalu mampu mencairkan suasana dengan lelucon-leluconnya yang konyol. Sementara Qiana, gadis yang penuh perhatian, selalu siap membantu dan mendengarkan keluh kesah sahabat-sahabatnya.


Suatu hari, ketika Hanin tiba di Lubuk Besar, ia langsung merasakan kehangatan sambutan dari ketiga sahabatnya. Mereka bertemu di warung yang berada di depan Puskesmas, tempat favorit mereka untuk berkumpul. Suasana di sana ramai, tetapi bagi mereka, tempat itu terasa seperti rumah. Mereka duduk dan mengobrol sambil menikmati camilan.


"Selamat datang, Hanin! Sudah kangen banget sama kamu!" seru ketiga sahabatnya.


Hanin tersenyum lebar. "Kangen banget sama kalian semua! Liburan ini pasti seru!"


Amot yang duduk di sampingnya menimpali, "Kita harus merencanakan sesuatu yang gila! Bagaimana kalau kita bermain di bawah pohon yang rindang itu?"


Qiana mengangguk setuju. "Ide bagus, Amot! Kita bisa menghabiskan waktu bersama sambil menikmati keindahan alam."


Di bawah pohon, mereka habiskan dengan berbagi cerita, tertawa dan tentang sekolah masing-masing. Meskipun mereka jarang bertemu, setiap pertemuan selalu menjadi momen yang berharga dan tak terlupakan.


Mereka duduk di luar Puskesmas, menatap langit yang cerah. Suasana tenang dan damai membuat mereka merenung sejenak. Hanin merasakan betapa berartinya persahabatan ini.


"Tengku, Amot, Qiana," Hanin memulai, "aku sangat bersyukur memiliki kalian dalam hidupku. Meskipun kita terpisah oleh pulau, persahabatan kita selalu membuatku merasa dekat."


Tengku mengangguk, "Kita mungkin tidak selalu bisa bertemu, tetapi kita selalu ada untuk satu sama lain. Itulah yang terpenting."


Amot menambahkan, "Dan kita harus terus menjaga hubungan ini, apapun yang terjadi. Kita bisa saling mendukung meskipun dari jauh."


Qiana tersenyum, "Aku berharap kita bisa selalu bersama, tidak hanya saat liburan. Mari kita buat janji untuk saling mengunjungi satu sama lain."


Di bawah pohon yang rindang, mereka berjanji untuk selalu menjaga persahabatan ini, terlepas dari jarak yang memisahkan. Mereka berharap suatu saat nanti, bisa memiliki lebih banyak waktu bersama, menciptakan lebih banyak kenangan indah.


Liburan Hanin di Bangka pun berakhir. Besok Jumat 3 Januari 2025 saatnya kembali ke Palembang. Meskipun berat untuk berpisah, mereka tahu bahwa persahabatan mereka akan selalu ada.


"Sampai jumpa lagi, sahabat!" seru Hanin dengan suara penuh haru.


"Jangan lupa untuk mengunjungi kami lagi!" jawab Tengku.


Amot dan Qiana melambaikan tangan, menandakan bahwa mereka akan selalu menunggu kedatangan Hanin.


Setelah kembali ke Palembang, Hanin sering mengingat momen-momen indah bersama sahabat-sahabatnya. Ia menyimpan semua foto dan kenangan.


Persahabatan mereka tidak hanya sekadar pertemanan biasa; itu adalah ikatan yang kuat, yang dibangun dengan kebersamaan. Mereka saling mendukung dalam setiap langkah kehidupan, meskipun terpisah oleh pulau.


Hanin berharap, di masa depan, mereka dapat berkumpul di satu tempat, dan merayakan persahabatan mereka. Ia ingin melihat Tengku, Amot, dan Qiana tumbuh dan sukses dalam hidup mereka. Ia ingin menjadi bagian dari perjalanan mereka, dan berharap mereka juga menjadi bagian dari hidupnya.


Dengan harapan yang kuat, Hanin membayangkan masa depan yang cerah bagi mereka. Sebuah masa depan di mana mereka tidak hanya bertemu di Puskesmas Lubuk Besar, tetapi juga menjelajahi dunia, menciptakan lebih banyak kenangan, dan merayakan persahabatan mereka.



Hadiah dan Hidayah: Kajian Etimologis dan Filosofis dalam Falsafah Islam

Kata hadiah dan hidayah barangkali terdengar sederhana dan sangat akrab dalam keseharian kita. Namun, sedikit yang menyadari bahwa kedua k...