Senin, 09 Juni 2025

Dari Piramida ke Paragraf: Menelusuri Kenangan Mesir Sambil Menyunting di Kota Koba

Ahad, 8 Juni 2025 di tengah suasana lebaran Idul Adha yang penuh berkah, Koba, sebuah kota nan damai di Provinsi Bangka Belitung, menjadi saksi sebuah pertemuan yang tak terlupakan. Hari itu, kami sekeluarga merasa senang dikunjungi oleh seorang ulama muda potensial dan CEO ELHA Lubabul Huda Muslim Store di Pangkal Pinang, yaitu Ust. Muhammad Kurnia. Beliau adalah sahabat sejak puluhan tahun yang lalu, dan kedatangannya membawa kembali kenangan indah yang pernah kami lalui bersama. 

Kurnia, begitu sapaan akrabnya, datang dengan membawa Lempah Kuning, makanan khas Bangka yang termasuk makanan favorit saya. Aroma rempah yang menggugah selera segera memenuhi ruangan saat beliau membawanya. Kami duduk bersama, menikmati hidangan sambil menikmati suasana lebaran yang ceria. Senyuman dan tawa kami mengalir seperti air yang tak pernah berhenti, menandakan betapa eratnya ikatan persahabatan kami. Kenangan kami dimulai ketika kami menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah di Ponpes Raudhatul Ulum Sakatiga. Di sana, kami belajar tentang ilmu agama, bergaul dengan teman-teman, dan merencanakan masa depan. 


Tahun 2005 menjadi titik awal perjalanan kami yang lebih jauh, ketika kami memutuskan untuk melanjutkan studi ke Mesir. Kami berangkat bersama juga dengan teman SUMSEL lainnya, penuh semangat dan harapan. Di Mesir, saya tinggal di Madinat al-Bu'uts, asrama khusus bagi mahasiswa internasional yang menempuh studi di Al-Azhar. Sebelum tinggal di Madinat al-Bu'uts, saya bersama teman lainnya pernah tinggal di Hay Asyir, sebuah kawasan yang ramai dengan aktivitas mahasiswa. Dari sana, kami harus menempuh perjalanan menuju Universitas Al-Azhar di Darrosah. Kami berangkat bersama, menunggu bus legendaris yang menjadi idaman para mahasiswa: bus 80 coret. Bus ini, selalu dipenuhi penumpang. Dalam perjalanan menuju kampus, kami sering kali harus berjuang untuk mendapatkan tempat duduk. Kenangan mengejar bus ini menjadi salah satu momen yang tak terlupakan. Kami berlari, tertawa, dan bersaing untuk mendapatkan kursi hahahhaha. Di sela-sela waktu kuliah, kami juga menghabiskan waktu bermain bola kaki, olahraga yang sangat digemari di seluruh seantero Mesir.


Ust. Kurnia sering menginap di Asrama Buuts dimana tempat saya tinggal, di sela-sela itu  kami menyantap makanan favorit, seperti togin ma'a tursyi (semacam makaroni panggang dicampur daging dengan lalapan acar), xio mia (begitu kami menyebutnya) semacam mie dimasak oleh mahasiswa China Muslim dimana kedainya tidak jauh dari asrama Bu'uts, dan firhg ala fakhm (ayam panggang) yang selalu membuat kami rindu saat jauh dari Mesir. Suasana pasar di Suq Gum'ah dan Pasar Atabah juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kenangan kami. Di suq gum'ah, kami berburu barang-barang branded dengan anggaran mahasiswa yang terbatas. Setiap pengalaman di Mesir, baik suka maupun duka, menjadikan kami semakin dekat satu sama lain. 


Kembali ke Koba, di sela-sela kunjungannya, kami menyelesaikan revisi penelitian artikel ilmiahnya yang sudah ditunggu deadline-nya untuk terbit. Penerbitan artikel ini dilakukan sebagai prasyarat yang menjadi bagian dari penelitian beliau untuk ujian di program doktor Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Kami bekerja sama dengan semangat, mengedit, menyusun dan merapikan tulisan. Saya merasa bangga melihat sahabat saya yang kini menjadi seorang ulama dan berjuang untuk ilmu dan masyarakat. "Semoga cepet kelar bos studi doktor kau," ucapku. "Dunia membutuhkan pemikiran dan kontribusimu bosku." "Amin," jawabnya sambil tersenyum.


Setelah menyelesaikan revisi, kami kembali ke momen nostalgia, mengenang semua yang telah dilalui. Dalam suasana lebaran yang penuh berkah ini, kami menyadari betapa berartinya persahabatan yang telah terjalin selama bertahun-tahun. Kami terus mendukung satu sama lain, tidak hanya dalam hal akademis, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.


Dalam perjalanan waktu kami melangkah bersama, persahabatan ini takkan pudar. Kami berbagi harapan, menyusuri jalan penuh tantangan. Dengan harapan dan doa, kami mengakhiri pertemuan ini, bersyukur atas persahabatan yang telah terjalin. Koba, edisi lebaran idul adha, menjadi saksi sebuah perjalanan yang tak akan pernah terlupakan.





Hadiah dan Hidayah: Kajian Etimologis dan Filosofis dalam Falsafah Islam

Kata hadiah dan hidayah barangkali terdengar sederhana dan sangat akrab dalam keseharian kita. Namun, sedikit yang menyadari bahwa kedua k...