Pertandingan dimulai dengan semangat yang menggebu. Pasangan Ridho/Dayat selalu berkoordinasi dengan baik, mengatur tempo permainan dan menempatkan bola dengan akurat. Di sisi lain, Rama/Sani berusaha keras untuk mengejar ketertinggalan. Namun, setiap kali mereka berhasil mencetak poin, Ridho/Dayat selalu mampu membalas dengan cepat.
Set pertama berlangsung sangat ketat. Poin demi poin terus bergulir, dan suasana di lapangan semakin tegang. Penonton bersorak-sorai, memberikan semangat kepada kedua pasangan. Namun, pada akhirnya, Ridho/Dayat berhasil menutup set pertama dengan skor 42:36. Kemenangan itu disambut dengan tepuk tangan meriah dari para penonton, sementara Rama/Sani terdiam, merasakan beratnya kekalahan.
Set kedua dimulai, dan Rama/Sani berusaha bangkit dari keterpurukan. Namun, Ridho/Dayat menunjukkan kelas mereka. Dengan strategi yang matang dan komunikasi yang solid, mereka berhasil mendominasi permainan. Set kedua berakhir dengan skor telak 42:25, menandakan kemenangan mutlak bagi Ridho dan Dayat.
Kekalahan tersebut membawa konsekuensi. Sesuai dengan tradisi duel antara kedua pemain ini, pasangan yang kalah harus menerima hukuman. Rama/Sani harus melakukan push-up sebagai bentuk konsekuensi dari kekalahan mereka. Set pertama, mereka harus melakukan 21 kali push-up, namun Rama merubah Push up-nya dengan Sit Up karena merasa sangat lelah cuy hahaha, dan set kedua mereka push up sebanyak 33 kali. Dengan rasa malu dan kelelahan, Rama/Sani melakukannya di hadapan teman-teman mereka.
Setelah pertandingan, Rama terlihat lesu. Ia langsung pulang, mungkin tidak tahan dengan ejekan dan buli-bulian dari para penonton dan rivalnya yang masih berada di lapangan. Sementara itu, Sani tetap berada di sana, meratapi nasibnya terdiam seribu bahasa. Dalam hati, ia bergumam, "Kok bisa kami kalah? Apa yang salah dengan permainan kami?" Ia merasa semua strategi yang mereka rencanakan tidak berjalan sesuai harapan.
Malam itu, Rama pulang dengan perasaan hampa. Makan sahur terasa tidak selera, dan tidur pun tidak nyenyak. Ia terbangun beberapa kali, terbayang-bayang akan mimpi buruk tentang kehebatan permainan Ridho/Dayat. Ia teringat akan penempatan bola mereka yang selalu tepat, strategi yang rapi, serta komunikasi yang kuat. Semua itu membuatnya merasa inferior, seolah-olah mereka tidak memiliki peluang untuk menang.
Sementara itu, Sani yang masih berada di lapangan mencoba mencerna kekalahan tersebut. Ia tahu bahwa mereka harus melakukan evaluasi. Di waktu sahur, Sani menghubungi Rama untuk membahas pertandingan tersebut. Sani memulai pembicaraan, "Lur, aku tau kito kalah, tapi kito harus melihat sisi positif dari kekalahan ini."
Rama mengangguk-ngangguk di hadapan hpnya, meskipun wajahnya masih terlihat lesu. "Aku tau, San. Tapi rasonyo sangat menyakitkan. Kito sudah berlatih keras, sparing kesana kemari, ke Pemulutan, Kayuagung, Kramasan, dan lain-lain tapi hasilnya tidak sesuai harapan."
Sani menghela napas, "Kito memang kalah, tapi kito biso belajar dari kekalahan ini. Kita harus menganalisis permainan ini, mencari tahu di mana letak kesalahan kita. Malam itu Ridho/Dayat bermain sangat baik, kita harus mengakui itu."
Rama mulai merenung. "Kau benar. Mungkin kita terlalu fokus pada mengejar poin dan lupa untuk berkomunikasi dengan baik. Kita juga harus memperbaiki strategi kita." Sani tersenyum, "Ya, kita perlu meningkatkan koordinasi dan kekompakan lagi."
Rama mulai merasa semangatnya kembali. "Aku setuju. Kita tidak boleh menyerah. Kita harus bangkit dan berlatih lebih keras. Kemenangan pasti akan datang jika kita berusaha." Keduanya sepakat untuk menjadikan kekalahan ini sebagai motivasi.
Di PB Samo Same, persaingan antara Ridho/Dayat dan Rama/Sani akan terus berlanjut, dengan setiap pertandingan menjadi kesempatan untuk belajar, bangkit, dan meraih kemenangan. (Salam Olahrga.....)
![]() |
| Lemes lur tepar |
![]() |
| Pura-Pura Bahagia Baelah hahahaha |


.jpeg)
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar