Rabu, 19 November 2025

Hadiah dan Hidayah: Kajian Etimologis dan Filosofis dalam Falsafah Islam

Kata hadiah dan hidayah barangkali terdengar sederhana dan sangat akrab dalam keseharian kita. Namun, sedikit yang menyadari bahwa kedua kata tersebut memiliki hubungan yang sangat dekat dalam sistem morfologi bahasa Arab. Keduanya berakar pada tiga huruf dasar yang sama, yaitu ه–د–ى (hdy)—sebuah akar kata yang mengandung makna menunjukkan (dalla), memberitahu (‘arrafa), membimbing (arsyada), menjelaskan jalan yang baik (hak) dan sesat (batil, dhalal), istiqomah (konsisten), mengantarkan sesuatu menuju kebaikan (lihat selengkapnya Ibn Manzur, Lisan Al-‘Arab, Beirut: Dar Shadir, 1990, J. 9, 354).

Dari akar kata inilah berkembang dua istilah yang tampak berbeda dalam wujud dan fungsi, tetapi tetap terhubung pada makna dasarnya: membantu sesuatu atau seseorang sampai pada tempat yang layak dan benar. Dengan demikian, hadiah dan hidayah bukan sekedar dua istilah yang berbeda, melainkan dua manifestasi makna yang lahir dari satu sumber linguistik dan konseptual yang sama.

Bila bahasa lain sering kali berkembang dengan perubahan bentuk yang kadang terlepas dari akar asalnya, bahasa Arab justru menjaga keterhubungan antaristilah. Dari satu akar dapat lahir banyak kata yang berbeda, tetapi semuanya tetap memelihara keterkaitan makna. Inilah yang menjadikan bahasa Arab unik: ia kokoh seperti pohon, tetapi lentur dalam memberikan cabang makna. Al-Attas menggambarkannya melalui metafora pohon: akarnya menghujam dalam tanah, batangnya berdiri tegak, cabang dan rantingnya menyebar ke segala arah, sementara daun dan buahnya tumbuh dari sumber yang sama. Akar kata, menurutnya, tidak dapat diganti atau diubah; ia tetap menjadi fondasi yang menumbuhkan makna-makna baru (Al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin, Kuala Lumpur: ISTAC, 2001, 105).

Wan Mohd Nor juga menambahkan bahwa bahasa Arab dapat dipandang sebagai “sistem organik” yang menyatukan istilah-istilah. Setiap istilah saling berkelindan, menghadirkan jaringan makna yang kaya namun tetap teratur (Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy…, Kuala Lumpur: ISTAC, 1998, 337). Dengan kata lain, bahasa Arab mampu mengajarkan cara berpikir yang filosofis, membimbing manusia melihat keteraturan kosmos sekaligus memahami posisi dirinya di dalamnya.

Hadiah: Medium Cinta, Kasih Sayang, dan Keakraban

Dalam tradisi Islam, hadiah bukan sekadar objek material yang diberikan dari satu individu kepada individu lain. Hadiah merepresentasikan bentuk pengakuan, penghormatan, dan hubungan emosional yang terikat pada dimensi moral dan spiritual. Rasulullah Saw menyatakan: “tahādū taḥābbū” — salinglah memberi hadiah, niscaya kalian saling mencintai (HR. Bukhari). Ungkapan ini menunjukkan bahwa hadiah dapat menjadi sarana memperkuat hubungan dan menumbuhkan kasih sayang.

Hadiah kecil sekalipun dapat melunakkan hati dan mempererat tali silaturahmi. Ia merupakan bingkisan emosional yang membawa doa, simpati, dan harapan. Hadiah biasanya diberikan kepada orang yang dikenal, dihormati, atau dicintai. Jarang sekali hadiah diberikan kepada orang yang asing tanpa hubungan emosional. Di sinilah hadiah menjadi tanda istimewa: penerimanya dianggap penting, berharga, dan dekat di hati pemberi.

Makna yang tersirat di balik hadiah bahkan bisa lebih dalam: hadiah menjadi “pesan simbolik” bahwa sang pemberi berharap hubungan semakin kuat, kasih sayang bertambah, dan rasa persaudaraan semakin erat. Hadiah mampu mengubah kesedihan menjadi kebahagiaan, rasa malas menjadi semangat, bahkan permusuhan menjadi persahabatan.

Hidayah: Hadiah Tertinggi dari Sang Pencipta

Secara terminologis, hidayah merujuk pada petunjuk yang berasal dari Allah yang membimbing manusia menuju kebenaran dan jalan yang lurus. Hidayah bukan sekadar pengetahuan yang diperoleh melalui proses akal atau pengalaman, tetapi merupakan cahaya Ilahi yang meneguhkan hati untuk memahami, menerima, dan mengamalkan kebenaran. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah yang artinya: "Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki" (QS. al‑Qaṣaṣ: 56)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa hidayah merupakan otoritas eksklusif Allah. Pengetahuan dan argumentasi rasional tidak cukup untuk menjamin hadirnya hidayah dalam diri seseorang. Mengutip riwayat Ibn ‘Abbās, Al-Ṭabarī dalam tafsirnya menyatakan bahwa hidayah sangat erat kaitannya dengan taufīq. Saat menafsirkan kata ihdinā dalam Surah al-Fatihah, ia memilih frasa di antaranya: waffiqnā li al-tsabāti ‘alaih—“berikanlah kepada kami taufik agar tetap teguh di atas jalannya” (At-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān, Cairo: Dār Hijr, tt J. 1, 165). Dengan demikian, hidayah bukan hanya mengetahui jalan yang benar, tetapi kemampuan untuk terus konsisten di atasnya—al-tsabāt ‘alā al-hudā (At-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān, J. 1, 169).

Dalam hal ini, taufiq dipahami sebagai kesesuaian dan keselarasan antara kehendak hamba dan kehendak Ilahi, yakni adanya “persetujuan dua arah.” Ibn Manẓūr menjelaskan bahwa ketika persesuaian itu dikaitkan dengan Allah, maka maknanya adalah bahwa Allah mengilhami seseorang kepada kebaikan (Ibn Manẓūr, Lisān al-‘Arab, J. 9, 671). Artinya, hidayah menuntut harmoni antara ilmu, niat, tujuan, dan amal.

Dengan demikian, hidayah berhubungan dengan sesuatu yang tetap dan stabil. Pada titik ini konsep taufiq, muwāfaqah (mufakat) dan segala derivasinya dimaknai dengan keselarasan atau kecocokan. Ia memiliki posisi penting. Sebagaimana sebuah kesepakatan tidak dapat berlaku jika hanya satu pihak yang menyetujui, demikian pula hidayah. Dengan kata lain, kesiapan mental dan spiritual menjadi prasyarat agar hidayah hadir sebagai cahaya yang meneguhkan langkah di atasnya.

Hadiah dan Hidayah: Dua Jalan yang Berkelindan

Jika hadiah merupakan pemberian manusia yang memperkuat hubungan sosial dan emosional, maka hidayah adalah pemberian Ilahi yang mengokohkan hubungan eksistensial manusia dengan Tuhannya. Keduanya terhubung melalui struktur makna yang berasal dari akar kata yang sama, yaitu menunjukkan proses pembimbingan, pengantaran, dan penyerahan sesuatu kepada tujuan yang layak.

Hidayah tidak turun secara acak, tetapi diberikan kepada hamba pilihan yang membuka hatinya untuk menerima dengan tulus. Dalam kerangka epistemologi Islam, hadiah dapat dipandang sebagai langkah awal yang bersifat sosial dan psikologis yang mempersiapkan hati untuk menerima bentuk pemberian tertinggi: hidayah. Sebagaimana hadiah hanya bermakna bagi hati yang menghargainya, demikian pula hidayah hanya dapat diterima oleh hati yang tunduk dan siap menerima kebenaran. Dengan demikian, hubungan antara keduanya bukan semata linguistik, tetapi struktural dan konseptual.

Kesimpulan 

Hadiah dan hidayah berakar dari satu sumber linguistik Arab yang sama dan sama-sama bermakna pemberian yang menghantarkan kepada tujuan yang layak. Hadiah merupakan pemberian manusia yang mempererat hubungan emosional dan sosial, sementara hidayah adalah anugerah Ilahi berupa cahaya yang menuntun hati kepada kebenaran dan keteguhan iman. Keduanya bersifat selektif: hadiah diberikan kepada mereka yang memiliki kedekatan emosional, sedangkan hidayah hanya diterima oleh hati yang siap, tulus, dan selaras dengan kehendak Ilahi. Dengan demikian, hadiah dapat dilihat sebagai pantulan duniawi dari makna besar yang termanifestasi dalam hidayah. Keduanya adalah pemberian dapat membimbing dan mentransformasi penerimanya.


Dapat dilihat di sini juga:

https://www.kompasiana.com/rahmathidayat078350/691d791b34777c55f0076652/hadiah-dan-hidayah-kajian-etimologis-dan-filosofis-dalam-falsafah-islam 









Rabu, 22 Oktober 2025

Dari Dunia Hingga Peradaban: Menggali Falsafah Semantik dalam Akar Kata Bahasa Arab

Bahasa Arab memiliki pesona tersendiri. Ia tidak hanya hidup dalam percakapan sehari-hari atau komunikasi, tetapi juga mengakar dalam denyut sejarah, agama, dan peradaban. Keistimewaan bahasa ini terletak pada struktur akar katanya, yang setiap kata berawal dari rangkaian tiga huruf dasar yang membentuk jaringan makna luas, namun tetap terikat dalam satu kesatuan organik.

Bila bahasa lain sering kali berkembang dengan perubahan bentuk yang kadang terlepas dari akar asalnya, bahasa Arab justru menjaga keterhubungan antaristilah. Dari satu akar dapat lahir banyak kata yang berbeda, tetapi semuanya tetap memelihara keterkaitan makna. Inilah yang menjadikan bahasa Arab unik: ia kokoh seperti pohon, tetapi lentur dalam memberikan cabang makna. Al-Attas menggambarkannya melalui metafora pohon: akarnya menghujam dalam tanah, batangnya berdiri tegak, cabang dan rantingnya menyebar ke segala arah, sementara daun dan buahnya tumbuh dari sumber yang sama. Akar kata, menurutnya, tidak dapat diganti atau diubah; ia tetap menjadi fondasi yang menumbuhkan makna-makna baru (Al-Attas, Risalah Untuk Kaum Muslimin, Kuala Lumpur: ISTAC, 2001, 105).


Wan Mohd Nor juga menambahkan bahwa bahasa Arab dapat dipandang sebagai “sistem organik” yang menyatukan istilah-istilah. Setiap istilah saling berkelindan, menghadirkan jaringan makna yang kaya namun tetap teratur (Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy…, Kuala Lumpur: ISTAC, 1998, 337). Dengan kata lain, bahasa Arab mampu mengajarkan cara berpikir yang filosofis, membimbing manusia melihat keteraturan kosmos sekaligus memahami posisi dirinya di dalamnya.


Dengan kerangka pemikiran ini dapat dipahami bahwa satu akar kata dalam bahasa Arab mampu melahirkan beragam istilah yang sekilas tampak berbeda, namun sejatinya tetap berakar dalam satu jaringan makna yang utuh. Relasi semantik semacam ini bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari sistem linguistik yang terjaga konsistensi dan keutuhannya. Dari akar kata d-y-n—atau variasinya d-n-y—tumbuhlah istilah-istilah yang saling terkait: dunia, agama (din), hutang (dayn), hakim/penguasa/pemerintah (dayyan), kota (madinah), hingga peradaban (tamaddun). Keseluruhan cabang makna ini membentuk sebuah panorama konseptual yang menggambarkan bagaimana bahasa Arab mampu menyingkap falsafah hidup serta peta semantik yang mendalam.


Dunia dan Akhirat: Kedekatan dan Kejauhan

Contoh yang menarik dapat dilihat dari istilah dunia (dun-ya). Kata ini berasal dari akar danaayadnuu yang berarti dekat (qaruba). Dunia dinamakan demikian karena ia merupakan sesuatu yang didekatkan (lidunuwwiha), yakni realitas yang hadir di hadapan mata manusia (Ibn Faris, Maqayis al-Lughah, Cairo: Dar al-Ḥadits, 2008, 301; Ibn Manzur, Lisan al-Arab, Beirut: Dar Shadir, 1990, J. 14, 271). Sebaliknya, akhirat berasal dari kata aakhara, yang berarti sesuatu yang jauh (akhir), berada di penghujung perjalanan atau pengembaraan hidup manusia (rihlah), sekaligus merujuk pada realitas ghaib (Lisan al-‘Arab, J. 4, 11). Karenanya dunia dan akhirat bukan sekadar lawan kata, melainkan dua poros kosmologi Islam yang membimbing manusia. Relasi semantiknya tampak jelas: dunia disebut dekat untuk menegaskan kefanaan hidup yang ada dalam genggaman, sedangkan akhirat disebut jauh guna mengingatkan manusia agar tidak terjebak pada yang sementara, melainkan menyiapkan diri menuju yang abadi.


Din: Agama Sebagai Penyerahan Diri dan Hutang Eksistensial

Dari akar yang sama, lahirlah istilah din. Umumnya istilah ini dipahami sebagai agama, tetapi dalam tradisi Islam, maknanya lebih luas. Menurut Al-Attas, din mencakup penyerahan diri, keadaan berhutang, kuasa peradilan, dan kecenderungan alami (Al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam, Kuala Lumpur: ISTAC, 1995, 42). Hubungan ini semakin nyata ketika dikaitkan dengan kata dayn, yang berarti hutang. Hutang yang dimaksud bukanlah semata-mata finansial, melainkan hutang eksistensial (Prolegomena…, 46). Sejak awal keberadaannya, manusia memikul tanggung jawab eksistensial kepada Allah karena ia tidak menciptakan dirinya sendiri. Dari segumpal darah, ia berkembang hingga menjadi dewasa tanpa kemampuan menciptakan penglihatan, pendengaran, atau indra lainnya. Semua itu adalah anugerah yang begitu besar sehingga tidak mungkin dibalas atau dilunasi.


Oleh karena itu, hakikat manusia itu sendiri adalah hutang yang harus dibayar dan dikembalikan kepada Pemilik-Nya. Konsep pengembalian inilah yang terjelma dalam makna kata din, yakni penyerahan diri manusia kepada kecenderungan alaminya yakni fitrah asalnya. Dengan demikian, agama bukan sekadar aturan lahiriah, melainkan jalan spiritual yang mengingatkan manusia untuk kembali kepada Sumber keberadaannya (Prolegomena…, 46-47). 


Karena istilah dunia dan din berakar dari akar kata yang sama, maka hakikat beragama harus diwujudkan di dunia. Dunia adalah ladang amal, tempat manusia menanam benih kebaikan sebagai bekal menuju kehidupan kekal di akhirat. Menjalankan agama berarti mengakui keterikatan eksistensial manusia kepada Allah. Keterikatan ini sejatinya adalah hutang yang melekat pada setiap insan sejak ia ada, dan cara membayarnya adalah dengan menjalankan din. Namun, din bukanlah hasil ciptaan akal dan pikiran manusia, melainkan bersumber dari Wahyu. Wahyu merupakan risalah Ilahi yang disampaikan dalam bentuk kata-kata, konsep, dan istilah yang sarat makna, dengan tujuan membimbing akal dan memperbaiki amal perbuatan manusia (Wan Mohd Nor, Masyarakat Islam Hadhari, Kuala Lumpur: DB&P, xiii).


Dayyan, Madinah dan Tamaddun

Dari akar yang sama, lahir istilah dayyan yang berarti hakim atau penguasa. Tidak ada masyarakat yang mampu bertahan tanpa pemimpin yang menegakkan aturan dan memberikan keadilan. Rasulullah Saw, saat memimpin Madinah, tampil sebagai dayyaan: seorang rasul yang membawa wahyu, seorang hakim yang memutuskan perkara, dan seorang pemimpin yang menata masyarakat.


Selanjutnya, istilah madinah (kota) juga berasal dari akar yang sama. Madinah yang dipimpin Rasulullah dikenal sebagai Madinah al-Munawwarah—“kota bercahaya.” Kota dalam pandangan Islam tidak hanya pusat ekonomi atau administrasi, melainkan ruang hidup yang dibangun di atas nilai-nilai ‘din/agama’. Dari konsep inilah muncul istilah maddana yang bermakna membangun atau membina kota (to build or to found cities), membangun peradaban (to civilize), menata kehidupan supaya menjadi lebih baik (to refine), dan memanusiakan manusia (to humanize). Dari kata maddana inilah lahir istilah tamaddun yang berarti  peradaban dan perbaikan dalam budaya sosial (Prolegomena…, 43-44). Ia mencakup pemurnian perilaku dan pembinaan masyarakat yang beradab.


Menurut Wan Mohd Nor dalam Adab dan Peradaban (hlm. 58), bahwa peradaban mencakup individu dan masyarakat serta meliputi seluruh aspek dan institusi kehidupan, seperti agama, kebudayaan, sosial-politik, ekonomi, kesenian, arsitektur, dan lain-lain (ed. M. Zaidi Ismail dan Wan Suhaimi, Petaling Jaya: MPH Group Publishing, 2012). Oleh karena itu, peradaban tidak semata-mata diukur dari menara yang tinggi, kota-kota megah, atau angka pertumbuhan ekonomi yang impresif. Lebih dari itu, peradaban adalah sebuah tatanan hidup yang mempersatukan nilai-nilai spiritual dengan ekspresi budaya, mengintegrasikan syariat dengan praktik sosial, serta menyelaraskan akal, rasa, dan iman dalam harmoni yang utuh.


Sejalan dengan itu, Zainiy Uthman menegaskan bahwa puncak peradaban terletak pada kemuliaan manusia yang berilmu, bukan semata pada kekuatan fisik atau kemajuan materi (M. Zainiy Uthman, Pemikiran dan Pembinaan Tamaddun, Putrajaya: Akademi Kenegaraan BTN, 2012, 18). Manusia berilmu akan menyadari kedudukannya di hadapan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Dengan demikian, ilmu mencapai makna sejatinya ketika digunakan untuk kebaikan dan kemaslahatan, bukan untuk menimbulkan kerusakan.


Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bahasa Arab bukan sekadar alat bunyi atau tulisan, melainkan jendela untuk memahami cara pandang dan falsafah hidup. Melalui struktur akar katanya, bahasa ini membangun kesinambungan makna, menjalin setiap istilah dalam jaringan semantik yang utuh. Lebih dari sekadar sarana komunikasi, bahasa Arab juga berfungsi sebagai penyingkap nilai, pengatur pola pikir, dan cermin kosmologi Islam yang membimbing manusia menuju kehidupan yang beradab dan penuh makna.


Minggu, 31 Agustus 2025

Sensitivitas Humanisme: Strategi Preventif Generasi dari Gelombang Perundungan

Manusia dituntut untuk menjaga hubungan baik dengan sesama, mengedepankan persaudaraan, menghormati, serta menjauhi perilaku yang menyakiti atau merendahkan orang lain. Sikap ini menjadi landasan penting dalam kehidupan sosial dan sejalan dengan ajaran agama yang menegaskan larangan merugikan sesama (QS. Al-Hujurat: 11–12). Namun, realitas sosial dewasa ini menunjukkan fenomena yang bertolak belakang dengan nilai-nilai tersebut. Salah satu bentuk penyimpangan perilaku yang kian marak adalah bullying. Kasus ini dapat terjadi di berbagai lingkungan, seperti sekolah, instansi, maupun masyarakat umum. 

Bullying merupakan tindakan penyalahgunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang, yang biasanya diwujudkan melalui perilaku mengancam, menindas, dan menimbulkan ketidaknyamanan pada korban. Istilah pada dasarnya bully berasal dari bahasa Inggris. Dalam bahasa Indonesia, istilah bully diadaptasi dengan padanan kata perundungan. Dengan demikian, bullying berarti perundungan, sedangkan kata rundung menurut KBBI diartikan sebagai perbuatan yang mengganggu, mengusik secara terus-menerus, serta menyusahkan pihak lain.


Fenomena bullying (perundungan) bukanlah hal baru, tetapi setiap kali muncul, dampaknya terasa sangat besar, baik bagi korban maupun pelaku. Bullying dapat terjadi pada siapa saja, tak memandang kalangan usia, ras, ataupun gender. Ia bisa terjadi di mana saja, mulai dari sekolah, tempat kerja, lingkungan sosial, atau bahkan di dunia maya. 


Fenomena Bullying 

Dalam beberapa bulan terakhir, kasus perundungan merebak di berbagai daerah dan menimbulkan keprihatinan luas. Di Jakarta Barat, tiga remaja dijatuhi hukuman rehabilitasi setelah terbukti merundung seorang teman (barat.jakarta.go.id, 3 Pelaku Bullying Tambora…, 22 April 2025). Di Medan, perundungan di SMP Negeri 8 diselesaikan secara kekeluargaan, dengan mediasi pihak sekolah dan keterlibatan orang tua (okemedan.com, Kasus Bullying…, 8 Mei 2025).


Namun, tidak semua berakhir damai. Di Palembang, seorang siswa SMP Negeri 31 menjadi korban penganiayaan hingga diceburkan ke sungai oleh sekelompok remaja (palembang.tribunnews.com, Walikota Ratu Dewa Merespons Cepat Kasus Bullying…, 23 Mei 2025). Tragedi juga terjadi di Indragiri Hulu, ketika seorang siswa SD ditemukan meninggal dunia dengan dugaan sebagai korban bullying bermotif intoleransi agama (suara.com, Misteri Kematian Siswa SD…, 2 Juni 2025). Sementara di Garut, seorang remaja meregang nyawa akibat tekanan psikologis setelah dirundung teman sebaya karena melaporkan pelanggaran di sekolah (detik.com, Kronologi Penanganan Remaja Garut…, 17 Juli 2025).


Fenomena kekerasan serupa muncul di Blitar, saat kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Seorang siswa baru dikeroyok puluhan senior dan rekaman kejadian tersebut viral di media sosial, memicu reaksi keras dari publik dan aparat penegak hukum (antaranews.com, Polisi Blitar Identifikasi 14 Pelajar…, 21 Juli 2025).


Tidak hanya di Indonesia, kasus perundungan juga mengguncang Malaysia. Seorang siswi berusia 13 tahun, Zara Qairina Mahathir, meninggal dunia usai ditemukan pingsan di asrama sekolahnya di Sabah. Peristiwa ini menimbulkan gelombang kemarahan masyarakat dan seruan untuk memperkuat perlindungan bagi anak (news.detik.com, Kronologi Kematian Zara Qairina…,13 Agustus 2025).


Lebih luas lagi, terjadi di dunia Pendidikan kedokteran. Kementerian Kesehatan RI merilis data yang mengejutkan: 2.920 kasus perundungan tercatat di rumah sakit pendidikan hanya dalam kurun satu tahun, meliputi beban kerja berlebihan, penghinaan, hingga kekerasan fisik. Beberapa korban bahkan mengalami depresi berat dan ada yang memilih mengakhiri hidupnya (tempo.co, Kementrian Kesehatan Pegang Bukti…, 22 Agustus 2025).


Kasus-kasus tadi menunjukkan bahwa bullying tidak hanya terjadi di sekolah-sekolah, tetapi juga merambah ke dunia pendidikan profesional. Penyebabnya beragam, mulai dari masalah pribadi, budaya kekerasan di sekolah, hingga hierarki sosial di pendidikan tinggi. Penanganannya harus menyeluruh, meliputi sanksi hukum tegas dan upaya pencegahan berkelanjutan. Pendidikan karakter di sekolah dan masyarakat perlu diperkuat agar nilai empati, rasa hormat, dan sikap humanis tertanam sejak dini. Karena bullying bisa terjadi kapan saja, peran aktif keluarga, sekolah, dan masyarakat sangat penting.


Strategi Preventif dalam Menanggulangi Perilaku Perundungan

Strategi ini diperoleh melalui pemantauan konten di media sosial Instagram (https://www.instagram.com/reel/DMaaSOdyRnP/?igsh=eTJxd3N4Z3JuYmV5). Meskipun bersumber dari platform digital, strategi ini tetap memiliki relevansi yang kuat dalam pendidikan dan pembinaan karakter. Inti dari strategi ini terletak pada langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan oleh orang tua, guru, maupun pihak lain untuk melindungi anak dari perilaku perundungan. Dengan pendekatan yang sederhana namun aplikatif, strategi ini dapat dirincikan sebagai berikut:


1.     Bedakan antara candaan yang sehat dan menjatuhkan. Candaan atau humor sering dianggap sebagai hal yang sama dalam semua konteks, padahal tidak demikian. Candaan yang sehat adalah yang dapat membuat orang tertawa tanpa melukai perasaan. Sebaliknya, candaan yang menjatuhkan dapat menimbulkan rasa malu atau sakit hati. Mengajarkan perbedaan ini kepada anak-anak penting untuk melatih empati dan rasa hormat mereka terhadap orang lain. Dengan pemahaman ini, anak juga belajar keterampilan komunikasi yang baik sehingga humor tidak menjadi alat untuk merendahkan.


2.     Tanamkan empati dan kepeduliaan terhadap sesama. Empati adalah dasar dalam membangun hubungan sosial yang sehat. Anak harus dibiasakan berpikir, “Aku tidak ingin mengejek, karena aku peduli pada perasaan orang lain.” Selain itu, mereka perlu diingatkan agar tidak menjadi penonton pasif dalam situasi perundungan. Diam atau tertawa saat orang lain diejek justru memperkuat perilaku negatif tersebut. Sebaliknya, dorong anak menjadi penengah yang menebarkan kebaikan. Dengan membiasakan sikap ini, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang mampu menciptakan lingkungan aman dan nyaman.


3.     Ajarkan kebebasan menolak dan keberanian moral. Anak perlu memahami bahwa tidak ikut-ikutan dalam candaan yang merendahkan bukanlah hal memalukan, melainkan wujud keberanian dan tanggung jawab moral. Beri mereka penguatan bahwa perasaan tidak nyaman terhadap perilaku negatif adalah tanda kepedulian. Katakan, “Kamu tidak salah kalau menolak. Justru itu menunjukkan keberanian kamu memilih yang benar.” Dengan prinsip ini, anak akan terbiasa mempertahankan nilai-nilai positif meskipun berada dalam tekanan kelompok.


4.     Bedakan antara kebaikan dan kepatuhan buta. Anak-anak sering mengira bahwa menjadi baik berarti selalu menuruti permintaan orang lain. Padahal, kebaikan sejati adalah keberanian untuk mengatakan “tidak” terhadap hal yang salah, meskipun mayoritas mengatakan “iya.” Prinsip ini penting agar anak tumbuh sebagai individu yang tidak mudah terpengaruh oleh tekanan sosial. Dengan begitu, anak tumbuh sebagai individu yang tidak mudah terpengaruh, tetapi tetap berpegang pada nilai-nilai kebaikan.


5.     Definisikan arti teman yang baik dan tolak normalisasi kekerasan. Arahkan anak untuk menempatkan empati kepada korban, bukan kepada tekanan dari kelompok. Ingatkan bahwa teman yang baik bukanlah yang mengajak melakukan kekerasan, baik secara verbal maupun fisik. Solidaritas sejati adalah saling mendukung dalam kebaikan, bukan melukai. Dengan memahami nilai ini, anak akan lebih mudah menolak ajakan yang mengarah pada perundungan dan memilih untuk melindungi mereka yang rentan.


Kelima poin ini menekankan pentingnya membangun karakter anak agar terhindar dari perilaku perundungan. Anak harus diajarkan membedakan candaan yang sehat dengan yang menjatuhkan, menumbuhkan empati dan kepedulian terhadap sesama, serta memiliki keberanian untuk menolak ajakan negatif. Mereka juga perlu memahami bahwa kebaikan tidak sama dengan kepatuhan buta, melainkan keberanian untuk berkata “tidak” pada hal yang salah. Selain itu, tanamkan pemahaman bahwa menjadi teman yang baik berarti saling menjaga, bukan menyakiti. 


Kesimpulan 

Perundungan merupakan permasalahan serius yang berdampak pada kehancuran harga diri korban, gangguan mental, bahkan potensi hilangnya nyawa. Fenomena ini terjadi akibat lemahnya pengendalian diri, kurangnya pemahaman nilai empati, serta pengaruh lingkungan sosial yang permisif terhadap kekerasan. Upaya penanganan tidak cukup hanya mengandalkan sanksi hukum, melainkan harus disertai langkah preventif melalui edukasi moral, penguatan karakter, adab, akhlak dan pemberdayaan orang tua serta pendidik sebagai garda terdepan. Dengan sinergi ini, diharapkan tercipta lingkungan yang aman dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan.

https://www.kompasiana.com/rahmathidayat078350/68b27c2ded641527870d5a62/sensitivitas-humanisme-strategi-preventif-generasi-dari-gelombang-perundungan?page=1&page_images=1

Senin, 09 Juni 2025

Dari Piramida ke Paragraf: Menelusuri Kenangan Mesir Sambil Menyunting di Kota Koba

Ahad, 8 Juni 2025 di tengah suasana lebaran Idul Adha yang penuh berkah, Koba, sebuah kota nan damai di Provinsi Bangka Belitung, menjadi saksi sebuah pertemuan yang tak terlupakan. Hari itu, kami sekeluarga merasa senang dikunjungi oleh seorang ulama muda potensial dan CEO ELHA Lubabul Huda Muslim Store di Pangkal Pinang, yaitu Ust. Muhammad Kurnia. Beliau adalah sahabat sejak puluhan tahun yang lalu, dan kedatangannya membawa kembali kenangan indah yang pernah kami lalui bersama. 

Kurnia, begitu sapaan akrabnya, datang dengan membawa Lempah Kuning, makanan khas Bangka yang termasuk makanan favorit saya. Aroma rempah yang menggugah selera segera memenuhi ruangan saat beliau membawanya. Kami duduk bersama, menikmati hidangan sambil menikmati suasana lebaran yang ceria. Senyuman dan tawa kami mengalir seperti air yang tak pernah berhenti, menandakan betapa eratnya ikatan persahabatan kami. Kenangan kami dimulai ketika kami menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah di Ponpes Raudhatul Ulum Sakatiga. Di sana, kami belajar tentang ilmu agama, bergaul dengan teman-teman, dan merencanakan masa depan. 


Tahun 2005 menjadi titik awal perjalanan kami yang lebih jauh, ketika kami memutuskan untuk melanjutkan studi ke Mesir. Kami berangkat bersama juga dengan teman SUMSEL lainnya, penuh semangat dan harapan. Di Mesir, saya tinggal di Madinat al-Bu'uts, asrama khusus bagi mahasiswa internasional yang menempuh studi di Al-Azhar. Sebelum tinggal di Madinat al-Bu'uts, saya bersama teman lainnya pernah tinggal di Hay Asyir, sebuah kawasan yang ramai dengan aktivitas mahasiswa. Dari sana, kami harus menempuh perjalanan menuju Universitas Al-Azhar di Darrosah. Kami berangkat bersama, menunggu bus legendaris yang menjadi idaman para mahasiswa: bus 80 coret. Bus ini, selalu dipenuhi penumpang. Dalam perjalanan menuju kampus, kami sering kali harus berjuang untuk mendapatkan tempat duduk. Kenangan mengejar bus ini menjadi salah satu momen yang tak terlupakan. Kami berlari, tertawa, dan bersaing untuk mendapatkan kursi hahahhaha. Di sela-sela waktu kuliah, kami juga menghabiskan waktu bermain bola kaki, olahraga yang sangat digemari di seluruh seantero Mesir.


Ust. Kurnia sering menginap di Asrama Buuts dimana tempat saya tinggal, di sela-sela itu  kami menyantap makanan favorit, seperti togin ma'a tursyi (semacam makaroni panggang dicampur daging dengan lalapan acar), xio mia (begitu kami menyebutnya) semacam mie dimasak oleh mahasiswa China Muslim dimana kedainya tidak jauh dari asrama Bu'uts, dan firhg ala fakhm (ayam panggang) yang selalu membuat kami rindu saat jauh dari Mesir. Suasana pasar di Suq Gum'ah dan Pasar Atabah juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kenangan kami. Di suq gum'ah, kami berburu barang-barang branded dengan anggaran mahasiswa yang terbatas. Setiap pengalaman di Mesir, baik suka maupun duka, menjadikan kami semakin dekat satu sama lain. 


Kembali ke Koba, di sela-sela kunjungannya, kami menyelesaikan revisi penelitian artikel ilmiahnya yang sudah ditunggu deadline-nya untuk terbit. Penerbitan artikel ini dilakukan sebagai prasyarat yang menjadi bagian dari penelitian beliau untuk ujian di program doktor Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Kami bekerja sama dengan semangat, mengedit, menyusun dan merapikan tulisan. Saya merasa bangga melihat sahabat saya yang kini menjadi seorang ulama dan berjuang untuk ilmu dan masyarakat. "Semoga cepet kelar bos studi doktor kau," ucapku. "Dunia membutuhkan pemikiran dan kontribusimu bosku." "Amin," jawabnya sambil tersenyum.


Setelah menyelesaikan revisi, kami kembali ke momen nostalgia, mengenang semua yang telah dilalui. Dalam suasana lebaran yang penuh berkah ini, kami menyadari betapa berartinya persahabatan yang telah terjalin selama bertahun-tahun. Kami terus mendukung satu sama lain, tidak hanya dalam hal akademis, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.


Dalam perjalanan waktu kami melangkah bersama, persahabatan ini takkan pudar. Kami berbagi harapan, menyusuri jalan penuh tantangan. Dengan harapan dan doa, kami mengakhiri pertemuan ini, bersyukur atas persahabatan yang telah terjalin. Koba, edisi lebaran idul adha, menjadi saksi sebuah perjalanan yang tak akan pernah terlupakan.





Senin, 19 Mei 2025

Gelombang Antusiasme Mahasiswa IQT Memadati Kegiatan Atlas

Senin 19 Mei 2025, bertempat di Ruang Munaqasyah, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUSHPI) UIN Raden Fatah Palembang resmi dibuka kegiatan Kelas Menulis Ilmiah FUSHPI 2025 yang mengangkat tema menarik, yaitu “Dialog Agama dan Warisan: Respon Terhadap Isu Ekologi Nusantara”. Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Dekan 1 FUSHPI, Dr. Nur Fitriyana, M.Ag, yang sekaligus membuka acara secara resmi. Turut hadir pula Kaprodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (IQT) beserta Sekretaris, H. John Supriyanto, MA dan Dr. Rahmat Hidayat, Kaprodi Ilmu Hadits (ILHA), Hedhri Nadhiran, M.Ag, Kepala Laboratorium Sulaiman M. Nur, MA, Kabag TU Dr. Jummiana, M.Pd.I, serta Kaprodi Tasawuf dan Psikoterapi sekaligus Pembina Atlas, Deddy Ilyas, M.Us. Kehadiran para pimpinan Fakultas dan akademisi ini menunjukkan komitmen FUSHPI dalam mendukung pengembangan kemampuan menulis ilmiah bagi mahasiswa lintas program studi.

Dalam sambutannya, Wakil Dekan 1, menegaskan pentingnya kegiatan menulis ilmiah sebagai bagian integral dari tradisi keilmuan Islam. “Perintah menulis sudah sangat jelas dalam Al-Qur’an, khususnya surat Nun, yang mengajarkan bahwa menulis adalah kewajiban dan jalan untuk mengabadikan ilmu pengetahuan. Penulis akan hidup selamanya lewat karya tulisnya, meskipun jasadnya telah tiada,” ujarnya dengan penuh semangat.

Beliau juga menambahkan, “Tujuan utama dari kelas menulis ini adalah untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi efektif, dan memperluas wawasan ilmu pengetahuan mahasiswa. Dengan kemampuan menulis yang baik, mahasiswa tidak hanya mampu menyampaikan ide dan gagasan secara sistematis, tetapi juga berkontribusi nyata dalam diskursus akademik dan sosial.”

Kelas Menulis Ilmiah FUSHPI 2025 diikuti oleh 52 peserta dari berbagai program studi di Fakultas. Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (IQT) menjadi yang paling banyak dengan 37 mahasiswa yang berpartisipasi. Hal ini menunjukkan antusiasme tinggi mahasiswa IQT dalam mengasah kemampuan menulis ilmiah mereka.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi wadah yang efektif bagi mahasiswa untuk: mengasah kemampuan menulis ilmiah yang berkualitas dan sesuai standar akademik; meningkatkan wawasan dan pemahaman terhadap isu-isu kontemporer, khususnya isu ekologi Nusantara yang menjadi tema sentral; mendorong dialog interdisipliner antara agama dan warisan budaya dalam merespon tantangan lingkungan hidup; membangun karakter akademik yang kritis, kreatif, dan komunikatif; dan mempersiapkan mahasiswa menjadi penulis dan peneliti yang mampu berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan solusi sosial.

Dengan dukungan penuh dari para dosen dan pimpinan fakultas, serta semangat tinggi dari peserta, Kelas Menulis Ilmiah FUSHPI 2025 diharapkan mampu mencetak generasi muda yang peka terhadap isu-isu sosial dan lingkungan yang tengah dihadapi bangsa.

Semoga kegiatan ini menjadi langkah awal yang kuat untuk mengembangkan budaya menulis ilmiah yang produktif dan berkelanjutan di lingkungan FUSHPI, serta memberikan manfaat besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan masyarakat luas.

Rabu, 23 April 2025

Tanpa Ampun! Dayat dan Ridho Libas Sani/Rama dengan Skor Telak 4-0

Salam Olahraga Guys.....

Senin malam 21 April 2025, suasana di PB Samo-Same sangat meriah. Para pemain bulu tangkis berkumpul sebagaimana biasanya. Seperti biasa antara dua pasangan rival abadi, Dayat/Ridho dan Sani/Rama sangat dinanti-nantikan. Lapangan hijau itu dipenuhi sorakan, tawa, dan semangat yang membara. Namun, malam itu akan menjadi malam yang tak terlupakan bagi pasangan Sani/Rama, bukan karena kemenangan, tetapi karena kekalahan telak yang mereka alami.

Sejak awal pertandingan, Dayat dan Ridho menunjukkan performa yang luar biasa. Mereka mengoper bola dengan presisi yang sempurna dan bergerak dengan kecepatan yang sulit ditandingi. Setiap kali Sani dan Rama mencoba untuk menyerang, Dayat dan Ridho selalu mampu mengantisipasi dan mengembalikan bola dengan lebih kuat. Sani dan Rama, meskipun telah berlatih keras, tampak kesulitan untuk meraih poin. "Rama, kito harus lebih fokus!" teriak Sani, berusaha membangkitkan semangat pasangan mereka. Namun, meskipun mereka berusaha keras, setiap serangan selalu berakhir dengan kegagalan. Set pertama berakhir dengan skor 42-34, dan set-set berikutnya tak jauh berbeda; 42-31, 42-30, 42-29. Dengan demikian, pasangan Sani/Rama takluk dengan total 4 set tanpa meraih satu poin pun.


Kekalahan telak itu tak hanya menyisakan rasa kecewa, tetapi juga sebuah hukuman yang harus mereka jalani. Dengan tertunduk lesu, Sani dan Rama bersiap untuk menjalani hukuman push up. "Inilah konsekuensi dari kekalahan," kata Rama dengan nada pasrah. Mereka pun mulai melakukan push up, dimulai dengan 25 kali di set pertama. Set kedua, 17 kali, set ketiga, 17 kali, dan set keempat, 29 kali. Setiap kali mereka turun dan naik, rasa lelah semakin terasa, tetapi mereka tahu bahwa ini adalah bagian dari permainan. Rama, dengan napas yang terengah-engah, mengungkapkan, "Saya merasa sangat kesulitan untuk meraih poin malam ini. Padahal, saya sudah menyantap sate kambing sebelum datang ke lapangan agar stamina saya semakin kuat." Sani menambahkan, "Dayat dan Ridho bermain luar biasa malam ini. Mereka benar-benar di luar prediksi kami, bahkan di luar prediksi BMKG sekalipun hahahah. Stamina mereka masih kuat, bola jauh, netting semuanya mereka teratasi."


Setelah melewati hukuman push up yang melelahkan, Sani dan Rama duduk di pinggir lapangan, merenungkan kekalahan mereka. Meskipun rasa sakit dan lelah masih terasa, mereka berdua sepakat untuk tidak menyerah. "Kita perlu belajar dari kekalahan ini," kata Sani. "Kita harus berlatih lebih keras dan lebih fokus pada strategi permainan kita."Rama menambahkan, "Saya berharap di pertandingan berikutnya, kita bisa lebih siap dan tidak terjebak dalam permainan lawan. Kita harus mengasah teknik dan stamina kita agar tidak mengalami hal yang sama." Mereka berdua berjanji untuk berlatih lebih keras dan tidak membiarkan kekalahan ini menghentikan semangat mereka.


Di sisi lain, pasangan Dayat dan Ridho merayakan kemenangan mereka dengan penuh semangat. "Kemenangan ini adalah hasil dari kerja keras dan kekompakan kami," kata Dayat dengan bangga. Ridho menambahkan, "Kami berharap bisa mempertahankan performa ini di pertandingan-pertandingan mendatang. Kami ingin terus berkembang dan menjadi lebih baik."Mereka berdua juga menyadari bahwa rivalitas ini sangat penting untuk meningkatkan kemampuan masing-masing. "Sani dan Rama adalah lawan yang tangguh. Kami menghargai mereka dan berharap bisa bertanding lagi di minggu depan," kata Ridho. Dayat menambahkan, "Semoga ke depannya, kami bisa terus saling menginspirasi dan mendorong satu sama lain untuk menjadi pemain yang lebih baik."


Kekalahan dan kemenangan adalah bagian dari setiap kompetisi. Sani dan Rama mungkin mengalami kekalahan telak malam itu, tetapi mereka memiliki harapan dan tekad untuk bangkit kembali. Sementara itu, Dayat dan Ridho merayakan keberhasilan mereka, tetapi tetap menghargai rivalitas yang ada. Dalam dunia olahraga, persahabatan dan saling menghormati adalah hal yang paling penting. Dengan semangat yang baru, Sani dan Rama bertekad untuk berlatih lebih keras, sementara Dayat dan Ridho berusaha untuk mempertahankan performa mereka. Rivalitas ini akan menjadi sumber motivasi bagi kedua pasangan untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi di masa depan. Dalam lapangan hijau yang sama, di malam yang lain, mereka akan kembali bertemu, dan kisah mereka akan berlanjut


Hadiah dan Hidayah: Kajian Etimologis dan Filosofis dalam Falsafah Islam

Kata hadiah dan hidayah barangkali terdengar sederhana dan sangat akrab dalam keseharian kita. Namun, sedikit yang menyadari bahwa kedua k...